Jadi Warisan Budaya Dunia Sejak 2012, Kini Lahan Produktif di Jatiluwih Makin Menyusut

Manajer Daerah Tujuan wisata (DTW) Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa mengatakan, kondisi di kawasan persawahan Jatiluwih kini mulai menyusut

Jadi Warisan Budaya Dunia Sejak 2012, Kini Lahan Produktif di Jatiluwih Makin Menyusut
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Dua orang wisatawan tampak sedang menikmati suasana persawahan di DTW Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Selasa (23/4/2019). 

“Kami sudah sampaikan ke masyarakat, desa, dan pengelola DTW Jatiluwih untuk tetap menjaga lahan persawahan ini tidak menyusut lagi.  Sebelum adanya Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), tidak boleh ada pembangunan apa pun,” katanya.

RTDR ini nantinya akan memberikan jawaban kepada masyarakat Jatiluwih tentang mana saja lahan atau kawasan yang peruntukkan untuk pembangunan di kawasan warisan budaya dunia.

“Setelah itu (RDTR) itu terbit, kita akan tau wilayah mana saja yang boleh dibangun dan mana yang tidak,” akunya.

Disinggung mengenai adanya usulan pembuatan bendungan di wilayah Gunung Sari, Miarsana mengakui hingga saat ini anggaran untuk pebangunan belum juga turun.

Kemungkinan membutuhkan anggaran yang sangat besar, dan jika dianggarakan dari keuangan daerah Tabanan juga tak mungkin bisa. 

“Anggaran pembuatan bangunan sangat besar jadi kita belum bisa menganggarakan. Sehingga kami saat ini masih menunggu bantuan dari pemerintah pusat,” tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved