Kejari Buleleng Tunggu Itikad Ashari Kembalikan Kerugian Negara

Kasus dugaan korupsi pembangunan kantor desa, dengan tersangka Perbekel Celukan Bawang, Muhammad Ashari terus bergulir

Kejari Buleleng Tunggu Itikad Ashari Kembalikan Kerugian Negara
Tribun Bali/Prima
Ilustrasi kasus korupsi. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- Kasus dugaan korupsi pembangunan kantor desa, dengan tersangka Perbekel Celukan Bawang, Muhammad Ashari terus bergulir.

Dalam waktu dekat Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng disebut-sebut bakal memeriksa pria yang ditetapkan sebagai tersangka sejak 3 Januari 2019 itu.

Dari informasi diterima, tersangka Ashari akan kembali dipanggil oleh pihak penyidik Kejari Buleleng untuk mengkonfrontir keterangan dari saksi-saksi termasuk sejumlah alat bukti yang ada.

Selain itu pihak jaksa juga masih menunggu itikad baik dari tersangka untuk mengembalikan dana kerugian negara yang ditimbulkan akibat ulah tersangka.

Kasi Intel Kejari Buleleng, M Nur Eka Firdaus mengatakan, penanganan kasus dugaan korupsi pembangunan kantor desa yang dilakukan tersangka Ashari masih terus berjalan. Sehingga dirinya membantah, jika penanganan kasus ini seolah jalan ditempat. Saat ini, sambung Firdaus, sudah ada enam sampai tujuh orang saksi yang sudah dimintai keterangan.

Bahkan, penyidik Kejari Buleleng yang menangani langsung kasus dugaan korupsi ini sudah meminta audit dari tim BPK atau BPKP. Terkait rencana untuk pemanggilan tersangka Ashari kembali, Firdaus hanya menegaskan akan segera dilakukan dalam waktu dekat."Saksi-saksi sudah banyak kami mintai keterangan. Rencana pemanggilan kembali tersangka kami masih melihat pemeriksaan saksi-saksi dan alat bukti yang ada, apa masih ada keterangan yang perlu digali oleh tersangka," kata Firdaus, Kamis (25/4) siang.

Firdaus pun tidak memungkiri, pihaknya juga masih menunggu itikad baik Ashari untuk mengembalikan dana kerugian negara tersebut. Hanya saja, hingga saat ini, sebut Firdaus, belum ada tanda-tanda pengembalian dana kerugian negara oleh tersangka Ashari.

"Kami akan tetap berusaha agar yang bersangkutan mengembalikan kerugian negara itu. Dan itu jelas akan menjadi pertimbangan kami dalam persidangan nanti, untuk menjatuhkan tuntutan dan meringankan tersangka. Jika tidak, maka akan ada hal-hal pemberatan dalam tuntutan nanti," pungkas Firdaus.

Seperti diketahui, meski telah ditetapkan sebagai tersangka, Muhammad Ashari nyatanya hingga kini belum ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri Buleleng. Ashari ditetapkan sebagai tersangka sejak 3 Januari lalu, lantaran terbukti menerima uang sebesar Rp 1.2 Miliar dari PT General Energy Bali (GEP) PLTU Celukan Bawang pada 2014 silam. Uang itu diberikan sebagai bentuk tukar guling lahan kantor Desa Celukan Bawang yang dulu berlokasi di Banjar Dinas Pundukan. Dimana lahan kantor desa itu terkena relokasi pembangunan PLTU Celukan Bawang.

Berdasarkan hasil penyelidikan, dana Rp 1.2 Miliar itu justru masuk ke rekening pribadi milik Ashari, bukan ke rekening milik pemerintah Desa Celukan Bawang. Selanjutnya, kantor Desa pun berpindah tempat dan dibangun di Banjar Dinas Celukan Bawang dengan anggaran sebesar Rp1 Miliar. Pengerjaannya dilakukan oleh CV Hikmah Lagas, tanpa melalui proses tender, alias ditunjuk secara pribadi oleh MA. Sedangkan sisanya sekirar Rp 200 juta, yang diklaim Ashari untuk membeli pintu dan kegiatan lainnya sampai saat ini belum dapat dibuktikan. (rtu)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved