Membaca Ancaman Gempa 8 Skala Richter dan 3 Patahan Lempeng di Tejakula, Seririt, dan Gerokgak

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Ida Bagus Suadnyana menyebutkan, tiga lempengan itu terdapat di Kecamatan Tejakula, Seririt dan Gerokgak.

Membaca Ancaman Gempa 8 Skala Richter dan 3 Patahan Lempeng di Tejakula, Seririt, dan Gerokgak
TRIBUN BALI/RATU AYU DESIANI
BPBD Buleleng saat menggelar simulasi penanganan tanggap darurat bencana di SMK Negeri 1 Singaraja, Jumat (26/4/2019). 

Membaca Ancaman Gempa 8 Skala Richter dan 3 Patahan Lempeng di Tejakula, Seririt, dan Gerokgak

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Wilayah Buleleng berpotensi diguncang gempa hingga berkekuatan delapan skala richter hingga tsunami.

Hal ini lantaran Buleleng memiliki tiga patahan lempeng.

Untuk itu, pendidikan tentang penanganan bencana gencar dilaksanakan Badan Penanggulangan Becana Daerah (BPBD) Buleleng, mulai dari tingkat sekolah dan desa.

Pada Jumat (26/4/2019), BPBD Buleleng menggelar simulasi penanganan tanggap darurat bencana di SMK Negeri 1 Singaraja.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Ida Bagus Suadnyana menyebutkan, tiga lempengan itu terdapat di Kecamatan Tejakula, Seririt dan Gerokgak.

Baca: Ini Persamaan Nasib Persija Jakarta dan Persib Bandung di Leg Pertama Piala Indonesia

Baca: Hitungan Jam Bali Dihebohkan 2 Video Mesum, dari Ranjang Pasien hingga Pakaian Kebaya

Baca: Jadwal Leg Kedua Persib Vs Borneo FC Potensi Benturan dengan Persija Vs Bali United

Baca: Skor Akhir Bali United Vs Persija, Serdadu Tridatu Belum Aman Meski Sukses Pecundangi Persija

Oleh sebab itu, Pemkab Buleleng melalui BPBD memberikan perhatian khusus kepada masyarakat agar lebih tanggap saat bencana gempa sewaktu-waktu terjadi.

"Kami turun ke sekolah, kantor, hotel dan masyarakat di desa untuk memberikan edukasi untuk menyelamatkan diri dan siap menhadapi bencana," terangnya.

Simulasi ini imbuh imbuh Suadnyana akan dilakukan hingga bulan depan, untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait tanggap bencana.

Sekolah dan desa pun menjadi fokus pemberikan pendidikan tanggap bencana, mengingat bahwa setiap kali terjadi bencana, anak-anak dan ibu-ibu kata Suadnyana, kerap menjadi korban. "Simulasi secara rutin terus dilakukan.

Bencana tidak bisa diprediksi. Untuk itu dengan adanya simulasi ini, masyarakat akan terbiasa seolah-seolah terjadi bencana. Sehingga masyarakat bisa mengantisipasi," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved