Tariska Ngaku Sering Alami Diskriminasi Pelayanan Kesehatan karena Dirinya Seorang Transgender

Dalam aksi tersebut, transgender asal Surabaya ini terlihat membawa poster bertuliskan "Transpuan Berhak Dihormati"

Tariska Ngaku Sering Alami Diskriminasi Pelayanan Kesehatan karena Dirinya Seorang Transgender
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Tariska Indri, seorang transgender saat ikuti aksi Women's March Bali 2019 di Lapangan Renon, Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Minggu (28/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Poster-poster penuh dengan kritik tajam dan tuntutan dibawa oleh puluhan orang yang ikut aksi Women`s March Bali 2019 bertepatan dengan kegiatan rutin Car Free Day (CFD) di Lapangan Renon, Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Minggu (28/4/2019).

Mereka membawa poster-poster kritik tajam bertuliskan "Jangan Lindungi Dosen Cabul, Stop Utamakan #NamaBaikKampus", "Lindungi Hak Buruh Perempuan, Hak Petani Perempuan, Hak Nelayan Perempuan", "Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual", "Lesbian Rights are Human Rights," dan kritik lainnya.

Tak hanya diikuti oleh kaum perempuan, nampak lelaki bahkan transgender juga turun ke jalan ikut bersuara dalam aksi Women`s March Bali 2019 dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.

Tariska Indri (44) seorang transgender yang saat itu seorang diri ikut dalam aksi Women`s March Bali 2019.

Baca: TKP Mutilasi Guru Honorer Angker, Warga Ngaku Dengar Suara Menangis hingga Merinding Saat Lewat TKP

Baca: Metode Face to Face! Yabes Roni Akui Taktikal Coach Teco Jitu

Dalam aksi tersebut, transgender asal Surabaya ini terlihat membawa poster bertuliskan "Transpuan Berhak Dihormati" dan "Hentikan Kriminalisasi Mantan Pecandu".

Tariska, sapaan akrabnya, menuturkan alasan ikut dalam aksi karena ingin mengentaskan kaum minoritas, terutama kaum LGBT, mantan pecandu, dan kaum-kaum yang termarginalkan.

"Sering, banyak sekali. Misalnya didiskrimanasi dalam pelayanan kesehatan. Kalau mau periksa atau berobat harusnya sudah dipanggil nomor urutnya, tapi diutamakan yang lain. Mereka bilang, 'tunggu dulu ini ibunya lebih penting lebih gawat'. Padahal saya lihat sama juga sakit demam dan flu. Kayaknya digampangin gitu," paparnya.

Namun, hanya beberapa layanan kesehatan yang bertidak diskriminatif terhadapnya.

Baca: Merpati Bali Bawa Pulang Gelar Juara Srikandi Cup Musim 2018-2019

Baca: Kronologi Tangkapan Narkoba Polda Bali Kabur Lewat Toilet, Buka Paksa Borgol & Loncat dari Ventilasi

Dijelaskannya, tak banyak yang dapat ia perbuat dari tindakan diskriminasi yang ia alami karena dirinya tak berani melawan dan tak mau berurusan dengan hukum.

"Kalau di masyarakat ya kekerasan verbal, seperti mengolok-ngolok, menggunjing, menertawai. Padahal kan saya bukan penjahat," ungkapnya.

Sementara, Tariska yang saat ini bekerja di salah satu properti di Kuta, menyebutkan tidak pernah mengalami diskriminasi di tempat kerjanya.

"Tidak pernah di tempat kerja. Tapi kalau di tempat umum, kayak di pasar itu kan kita masih ada sedikit stigma negatif tentang transgender. Intinya saya tidak mengganggu orang, kok orang mau mengganggu saya. Mestinya harus disejajarkan sama rata dan kita harus hidup sama-sama semua," pungkasnya.

Aksi Women`s March Bali 2019 bertajuk #BeraniBersuara #GerakBersama ini merupakan acara puncak dari Women`s March Bali 2019.(*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved