Women's March Bali Soroti Akses Kesehatan Kaum Minoritas dan Penyitas ODHA

Masih dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap bulan Maret.

Women's March Bali Soroti Akses Kesehatan Kaum Minoritas dan Penyitas ODHA
Tribun Bali/Noviana Windri
Para peserta Women's March Bali menyuarakan berbagai tuntutan di Lapangan Renon, Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Minggu (28/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Masih dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap bulan Maret.

GSHR Udayanan gelar aksi bertajuk #BeraniBersuara #BergerakBersama yang merupakan acara puncak Women's March Bali pada bulan Maret lalu.

Koordinator Humas dan Sosial Media, Devi Kusuma Cendana, menuturkan aksi yang digelar minggu (28/4/2019) pagi adalah aksi berkumpul, berjalan bersama dengan membawa poster berisi tuntutan.

"Hari Perempuan Internasional sebenarnya bulan Maret. Tapi karena tahun ini bertepatan dengan pemilu di bulan April. Jadi kami adakan setelah pemilu. Karena kegiatan seperti ini rentan diasosiasikan dengan kegiatan politik," ucapnya.

Dijelaskannya, aksi ini tidak hanya memperjuangkan hak-hak perempuan, tetapi juga memperjuangkan hak semua gender.

Termasuk kaum lelaki dan kaum minoritas seperti LGBT.

"Kalau di Bali ini menurut saya masih sangat kurang keberanian untuk berbicara, untuk bersuara, untuk keluar dari zona nyaman mereka. Kita mengundang dan mendekati organisasi pun masih banyak yang enggan dan sungkan untuk datang. Dan itu tantangan bagi kita," ungkapnya.

Peserta aksi merupakan perwakilan Kisara, Women Cycling Club, IndoRunners Bali, dan masyarakat umum.

Tuntutan yakni kekerasan dan pelecehan seksual khususnya yang terjadi di kampus, akses kesehatan bagi kaum minoritas dan para penyintas ODHA, tolak patriarki, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, pelanggaran HAM dan diskriminasi terhadap perempuan, kelompok marginal dan minoritas.

"Kita ingin mengupayakan akses kesehatan bagi kaum minoritas dan penyintas ODHA agar tidak lagi ada diskriminasi,"

"Selain itu, balik lagi ke budaya timur, karena senioritas itu sangat tinggi ya. Misalnya mahasiswa yang terlecehkan itu tidak berani bersuara untuk memberontak terhadap seseorang yang otoritasnya lebih tinggi. Itu yang kita upayakan," tandasnya.

Tidak hanya diikuti oleh perempuan, lelaki dan transgender juga terlihat ikut aksi dengan membawa poster dan berteriak bersama-sama "Perempuan Bersatu", "Tidak Dikalahkan", "Perempuan Bergerak", "Tak Bisa Dihentikan".

Sementara, aksi Women's March bertajuk #BeraniBersuara #BergerakBersama dimulai pada pukul 08.00 Wita dengan berjalan bertepatan dengan kegiatan rutin Car Free Day (CFD) mengelilingi Lapangan Renon di Lapangan Renon, Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Minggu (28/4/2019).

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved