Kaos Keos di Sudut Taman Baca Kesiman, Agung Alit Pajang 80 Kaos Sarat Pesan Kritik Sosial

Sejumlah 80 kaos dengan aneka macam gambar dan pesan dipajang membentuk sebuah instalasi berjudul ''Kaos Keos''

Penulis: eurazmy | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Pengunjung mengamati pameran instalasi kaos-keos karya Agung Alit di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Rabu (1/5/2019). Instalasi kaos-keos merupakan sebuah statement terhadap realita persoalan sosial dan lingkungan yang sedang terjadi di sekitar. Kaos keos sebuah pernyataan atas kenyataan. 

Kaos Keos, Agung Alit Pajang 80 Kaos Sarat Pesan Kritik Sosial

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada yang unik di sudut halaman belakang Taman Baca Kesiman (TBK) Denpasar, Rabu (1/5/2019).

Sejumlah 80 kaos dengan aneka macam gambar dan pesan dipajang membentuk sebuah instalasi berjudul '' Kaos Keos''.

Instalasi ini digagas oleh Agung Alit, pemilik TBK dalam rangka peringatan ruang publik yang ia bangun dan kini telah menginjak tahun kelima pada 30 April 2019 kemarin.

Dari semua kaos yang dipajang memiliki desain gambar yang mengandung pesan kritik sosial seperti Republik Indomie, Circle Kleng, Kendeng Lestari, Sawah Punyah Bali Benyah, Tolak Reklamasi, hingga Arak Connecting People.

Alit mengatakan, kaos-kaos ini merupakan koleksi miliknya dan juga hasil dari yang ia kumpulkan dari teman-temannya.

Baca: Megandu, Permainan Tradisional Usai Masa Panen yang Sudah Ada Sejak 1956

Baca: Cita Rasa Khas Badung Utara, Nikmati Kopi Plaga di Toosi Coffee

Menurut dia, instalasi kaos ini merupakan ekspresi maupun respons seseorang (baik pemakai maupun pencipta) terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Dengan melihat teks dan narasi dari kaos ini, pada akhirnya akan memunculkan stimulus di pikiran kita bahkan bisa menjadi media pembelajaran.

''Singkatnya Kaos Keos adalah pernyataan dari kenyataan. Jika diamati, persoalan-persoalan itu sebenarnya masih relevan dengan situasi dan kondisi saat ini,'' ujar dia kepada Tribun Bali.

Kenapa Kaos Keos?

Ia menjelaskan maksud dari keos merujuk pada kata chaos dalam bahasa inggris yang artinya kekacauan.

Baca: TRIBUN WIKI - 26 Daftar Nama Tersangka Bom Bali I

Baca: Koster Programkan Bali Wajib Belajar 12 Tahun, Target Tuntas Empat Tahun Kedepan

''Jadi apa yang saya lihat dari kaos-kaos ini muncul suasana chaos, amburadul. Sesuatu yang tidak beres, memunculkan ekspresi yang juga tidak beres, chaos,'' paparnya.

Sebagai contoh, pada kaos bertuliskan 'Arak Connecting People' misalnya.

Jika dicermati, bahwa mirisnya bagaimana minuman lokal bisa kalah dengan merk minuman dari luar negeri dengan kualitas jenis yang sama.

''Disini bisa kita amati bagaimana permainan korporasi dalam meminggirkan produk lokal hanya karena beda komisi. Seakan-akan Jack Daniel itu untuk kelas elit, arak itu untuk warga sipil,'' tukasnya.

Baca: Pencak Silat Bali Latih Tanding Lawan Jawa Timur, Ajang Evaluasi dan Asah Kemampuan

Baca: Petani Kesusahan Jual Beras Impari, Biaya Tanam Rp 12 Juta tapi Ditawar Hanya Rp 6 Juta saat Panen

Nah, karena masyarakat merasa tidak perlu meributkan hal ini hingga ke ranah lebih besar, maka mereka cukup mengekspresikan ketidaksepakatan mereka melalui medium kaos.

Melalui kaos, kata dia, merupakan medium penyampaian ekspresi paling efektif dan mudah dijangkau semua orang.

Sebab itu, terbersitlah ide untuk membuat instalasi ini.

''Desain pada gambar kaos itu total teks, teks yang punya konteks, kalau mau dipelajari kan bagus banyak sekali perenungan yang bisa kita dapatkan dari sini,'' harapnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved