Minat Transmigrasi Masyarakat Tabanan Turun Sejak 2 Tahun Lalu

Program transmigrasi dari pemerintah pusat tahun 2019 ini kembali digulirkan

Istimewa.
Lokasi transmigrasi yang rencananya disediakan di Kabupaten Sumba Timur, NTT. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Program transmigrasi dari pemerintah pusat tahun 2019 ini kembali digulirkan.

Provinsi Bali dijatah 10 kepala keluarga (KK) untuk ber transmigrasi ke wilayah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, khusus untuk Tabanan, hingga saat ini belum ada yang mendaftar.

Bisa dibilang, program ini tak diminati.

Sementara pada tahun 2017, ada kuota lima KK untuk transmigrasi.

Hanya saja yang mendaftar empat KK.

Penyebab kurang diminatinya program transmigrasi ini disinyalir karena beberapa faktor.

Baca: Teco Bawa Pemain Terbaik Hadapi Persija Jakarta! Sebut Rumput Stadion Wibawa Mukti Sangat Bagus

Baca: TRIBUN WIKI - 10 Pahlawan Nasional dari Bali, Salah Satunya Dijuluki Wanita Besi

Di antaranya daerah tujuan yang kemungkinan kurang diminati masyarakat, taraf hidup masyarakat yang sudah lebih baik, dan dukungan lapangan pekerjaan yang tersedia terutama di bidang pariwisata.

“Sampai saat ini (awal Mei) masih belum ada pendaftar atau peminat,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tabanan, I Putu Santika saat dihubungi, Rabu (1/5/2019).

Santika menjelaskan, untuk tahun 2019 ini program transmigrasi ada kuota 10 KK tujuan ke Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia mengaku sudah sempat melakukan pengecekan ke lokasi dengan Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Provinsi Bali belum lama ini.

Nantinya peserta transmigrasi akan diberikan lahan pertanian atau perkebunan untuk dikelola.

Baca: Usai Emosi Karena Fadel Islami Ditanya Pekerjaannya, Musdalifah Curhat Tentang Pernikahannya

Baca: Fakta Barcelona Vs Liverpool, Messi Cetak Gol ke-600, Suarez yang Pertama Musim Ini

“Tahun ini untuk Provinsi Bali dapat jatah 10 KK, dan misalnya nanti memang ada pendaftar dari kabupaten seperti Tabanan, baru akan diajukan ke provinsi untuk selanjutnya diseleksi,” jelasnya.

Santika menuturkan, keadaan ini justru lebih parah daripada dua tahun sebelumnya (2017).

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved