Pentas Drama Peringatan Hardiknas 2019 di Balai Bahasa Angkat Kisah Perjuangan Guru

Pada lomba pementasan drama modern yang digelar balai bahasa, banyak karakter yang ditampilkan dan pesan yang disampaikan.

Pentas Drama Peringatan Hardiknas 2019 di Balai Bahasa Angkat Kisah Perjuangan Guru
Tribun Bali/ Meika Pestaria Tumanggor
Pementasan drama modern yang digelar balai bahasa Bali dalam rangka hari pendidikan Nasional, Kamis (02/05/2019) 

Laporan Tribun Bali/ Meika Pestaria Tumanggor

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada lomba pementasan drama modern yang digelar balai bahasa, banyak karakter yang ditampilkan dan pesan yang disampaikan.

Seperti drama yang ditampilkan siswa-siswi SMA Negeri 5 Denpasar, yang mengangkat kisah perjuangan seorang guru di daerah terpencil.

Guru teater SMA Negeri 5 Denpasar Muda Wijaya mengatakan, pertunjukan drama yang ditampilkan mengambil cerita dari naskah berjudul "Badai Sepanjang Malam" karya Max Arifin.

Drama ini mengisahkan seorang guru dari Pulau Jawa bernama Jamil, yang ditugaskan mengajar di dusun kecil bernama Desa Klaulan, di daerah Mataram, NTB.

Jamil bertekad memajukan pendidikan di daerah itu. Ia coba menanamkan karakter-karakter pendidikan, supaya anak-anak dapat membangun dirinya dengan semangat belajar.

Namun selama bertugas, Jamil mengalami banyak hambatan untuk dapat menerapkan ilmu di daerah tersebut.

Baca: Bertemu Presiden Jokowi di Istana, AHY Pakai Mobil B 2024, Apa Maknanya Ini?

Baca: 7 Tahun Tunggu Istri Bekerja di Luar Negeri, Istri Malah Minta Cerai dan Bawa Anak dari Pria Lain

Ada kecenderungan masyarakat tidak bisa menerima ilmu baru, sehingga Jamil sulit untuk menjalankan inovasi yang telah ia ciptakan karena tidak mendapat dukungan.

Meski sempat bimbang untuk tidak melanjutkan perjuangan mengajar di daerah tersebut, tetapi berkat dukungan istri, Jamil tetap memutuskan untuk mengajar di daerah tersebut.

"Ini sebenarnya masih berkaitan dengan zaman sekarang, kan masih ada guru-guru yang ditugaskan di daerah pelosok", kata muda Wijaya.

Kisah lain yang ditampilkan dalam lomba pementasan ini mengenai sikap seseorang dalam hidup berkeluarga.

Tim teater SMA Negeri 2 Amlapura menampilkan drama berjudul "Tragedi Menjelang Senja".

Baca: Mohon Doa bagi Putri Denada, Harus Berjuang 1,5 Tahun Lagi, Badan Shakira Kurang Bisa Tahan

Baca: Jaga Mutu Layanan Kesehatan Peserta JKN-KIS, Status Akreditasi Rumah Sakit Harus Pasti

Sutradara tim teater SMA Negeri 2 Amlapura Cok Gek mengatakan, naskah drama merupakan hasil karangan sendiri dengan ide dari salah satu pemain.

Dalam drama ini dikisahkan sebuah keluarga yang tidak harmonis, istri sibuk bekerja, sedangkan suami tidak bekerja dan memiliki anak berkebutuhan khusus yang setiap hari hanya dirawat oleh pembantu.

"Pesan dari drama ini adalah membangun keluarga yang harmonis, saling menerima kekurangan masing-masing. Dan semua orang punya sisi jahat dan sisi baiknya masing-masing", kata Cok Geh. (*)

Penulis: Meika Pestaria Tumanggor
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved