ATM Refill Air Minum, 20 Instansi Sudah Pesan, Gede Oka: Kalau Haus Kita Butuh Air, Bukan Botol Kan?

Ebosystems dikembangkan oleh tim R&D Sandatindo yang beranggotakan 3 orang pemuda, yaitu Gede Oka Gartria, Ade Saputra, dan Chandra Kusuma.

ATM Refill Air Minum, 20 Instansi Sudah Pesan, Gede Oka: Kalau Haus Kita Butuh Air, Bukan Botol Kan?
Tribun Bali/Busrah Ardans
Ebosystems dikembangkan oleh tim R&D Sandatindo yang beranggotakan 3 orang pemuda, yaitu Gede Oka Gartria, Ade Saputra, dan Chandra Kusuma. 

Dengan alat ini dilanjutkannya, orang bisa punya botol sendiri (Tumbler) apa saja dan tinggal ditempelkan stiker barcode dan kemudian mencari mesin ebosystems lalu scan barcodenya.

"Setelah itu air minum langsung keluar sesuai dengan keinginan. Di situ juga akan terlihat berapa banyak sampah plastik yang sudah diuraikan secara umum. Setiap kita refill itu artinya kita sudah mengurangi sampah botol, bayangkan saja tiap hari kita bisa mencegah dua botol plastik ke alam.

"Kita akan kembangkan lagi, dan setelah kami perkenalkan, beberapa tempat sudah meminta, seperti di sini (Balai Diklat Industri Denpasar), ada juga yang sudah minta di Sport Center, kemudian kantor-kantor juga minta. Karena mereka pikir efisiensi karyawannya. Juga dari dinas-dinas sudah ada yang minta.
Selama dua hari dalam gelaran kampung IT ini sudah ada 20-an instansi yang meminta produk kami," lanjut Oka dengan wajah sumringah.

Selama ini, kesulitan yang dialami timnya, sambung Oka, karena alat dan bentuknya, di Indonesia belum ada yang bisa membuat manufaktur untuk casing.

Baca: Kenapa Harus Minum Air Putih 8 Gelas per Hari? Ini Penjelasan Menkes RI

Baca: Biasakanlah Minum Air Putih Hangat Tiap Pagi, Ternyata Ini 6 Manfaat Baik Bagi Kesehatan Tubuh Anda

"Jadi saat ini kita akali dengan membeli dispenser biasa dan kita keluarkan part-nya dan kita isi dengan part kita. Karena kita belum punya resource untuk part seperti dispenser ini dari segi bentuk, estetikanya. Kita pasang sensor untuk deteksi code. Ke depannya kami ada harapan buat casing sendiri karena secara estetika lebih bagus.

"Harapan kami ini bisa berkembang di Bali dulu, karena yang paling konsen untuk sampah saat ini masih di Bali, apalagi ada peraturan soal sampah plastik kemarin itu. Dan ya, bisa ditempatkan di mana saja sih alatnya," sambung Oka berharap.

Disinggung mengenai modal pembuatan alat tersebut, dia menyebut, selama sebulan pihaknya mengeluarkan Rp 8 juta.

"Alatnya enggak terlalu mahal, jadi bisa diproduksi cepat dan harapannya bisa disebarkan di beberapa tempat sekaligus. Kita rancang efisien dari segi harga dan seoptimal mungkin untuk manfaatnya. Jadi sederhananya tinggal bawa botolnya ke tempat yang ada alatnya itu. Untuk berbayarnya nanti bisa gunakan aplikasi untuk top-up dari sisi yang menjaga stan. Sebenarnya masih kami kembangkan sistemnya atau bisa juga di top-up sendiri pakai pulsa, bisa juga integrasikan dengan pembayaran online," sebutnya.

Baca: Lenggak-lenggok Bareng Kucing Kesayangan di Cat Show 2019, Menik Kampanye Pengurangan Sampah Plastik

Sementara itu, untuk harga airnya ia menambahkan, akan tergantung dengan isiannya.

"Sekarang masih fix kita tetapkan Rp 1.000 untuk sekali isi. Tapi sama dengan SPBU nantinya, berapa yang keluar begitu yang dibayarkan. Ini juga masih prototipe, dan kami minta masukan dari user, misalnya mereka hanya butuh sebotol jadi akan kita integrasikan," tambahnya.

Sandatindo sendiri merupakan perusahaan inovasi teknologi berbasis IT yang berpusat di Bali.

Targetnya adalah membantu perusahaan-perusahaan skala menengah ke atas untuk mengembangan proses bisnisnya menggunakan inovasi teknologi IT. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved