Prof Windia Usul ke UNESCO Cabut Status WBD Subak, Bupati Eka: Mari Beri Solusi

Prof Windia juga akan mengusulkan agar status subak sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) dicabut oleh UNESCO. Khususnya subak di Jatiluwih, Tabanan

Prof Windia Usul ke UNESCO Cabut Status WBD Subak, Bupati Eka: Mari Beri Solusi
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Inilah kawasan Subak Jatiluwih di Tabanan yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD). Prof. Windia mengritik pengelolaan kawasan subak Jatiluwih tak sesuai statusnya sebagai WBD. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Pusat Penelitian Subak Universitas Udayana (Unud) Prof Dr Ir I Wayan Windia SU diundang mengikuti Konferensi Air Internasional 2019 oleh United Nation, Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO).

Acara “UNESCO International Water Conference 2019” ini akan digelar selama dua hari yakni  13 dan 14 Mei mendatang di Kota Paris, Prancis.

Saat ditemui di Gedung Pascasarjana kampus Unud Sudirman Denpasar, Prof Windia mengatakan bahwa pihaknya diundang untuk mempresentasikan sistem irigasi subak di Bali.

Selain dari Indonesia, negara-negara lain yang juga ikut mempresentasikan sistem irigasinya yaitu Peru, Botswana dan beberapa negara lain.

“Jadi kita indonesia dipilih mempresentasikan sistem irigasi subak, karena menjadi warisan budaya dunia,” kata guru besar Fakultas Pertanian Unud ini, Senin (6/5/2019).

Namun, di samping mempresentasikan subak sebagai sistem irigasi khas di Bali, Prof Windia juga akan mengusulkan agar status subak sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) dicabut oleh UNESCO. Khususnya subak di Jatiluwih, Tabanan.

Usulan status WBD subak agar dicabut karena Prof. Windia melihat kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Terlebih, kata dia, pemerintah khususnya Kabupaten Tabanan tak menepati janjinya kepada UNESCO seperti saat pertama kali subak diusulkan menjadi WBD.

“Jadi kita mengusulkan sebagai WBD itu kan dengan berat. Sejak12 tahun sebelumnya telah diusulkan, dan baru disetujui UNESCO. Dan saat kita usulkan itu harus ada Badan Pengelola Warisan Budaya Dunia di subak itu,” terang Prof. Windia.

Namun apa daya, menurut Prof. Windia, Badan Pengelola WBD itu sampai sekarang tidak dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan. Justru yang dibentuk oleh mereka adalah Badan Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved