80 Persen Keragaman Hayati Ada di Tanah Adat, BIIFF 2019 Akan Putar 40 Film Mengangkat Isu Adat

Bali International Indigenous Film Festival (BIIFF) 2019 memasuki pelaksanaan festival yang kedua

80 Persen Keragaman Hayati Ada di Tanah Adat, BIIFF 2019 Akan Putar 40 Film Mengangkat Isu Adat
Tribun Bali/I Putu Supartika
Konferensi pers Film Festival (BIIFF) tahun 2019, di Denpasar, Rabu (8/5/2019). 80 Persen Keragaman Hayati Ada di Tanah Adat, BIIFF 2019 Akan Putar 40 Film Mengangkat Isu Adat 

80 Persen Keragaman Hayati Ada di Tanah Adat, BIIFF 2019 Akan Putar 40 Film Mengangkat Isu Adat

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali International Indigenous Film Festival (BIIFF) 2019 memasuki pelaksanaan festival yang kedua.

Acara bertajuk Stories That Matter ini akan digelar 10-13 Mei 2019 di Njana Tilem Museum Ubud, namun pembukaan dan pemutaran film akan digelar di Paradiso Theatre Ubud, Bali.

Pada event yang kedua ini ditayangkan sebanyak 40 film dari 14 negara termasuk Indonesia, dan akan dihadiri 35 sutradara dari masyarakat adat nusantara.

Co-founder BIIFF, David Metcalf mengatakan, filmaker yang ikut berpartisipasi merupakan filmaker masyarakat adat nusantara dan internasional.

Baca: Kunjungan Wisatawan ke Subak Jatiluwih Harus Dikendalikan

Baca: BMKG: Prakiraan Cuaca 33 Kota Besar di Indonesia Kamis 9 Mei 2019

"Kami mempertemukan dan berbagi tentang kondisi adat lewat film. Berbagai suara-suara adat akan disampaikan dalam acara ini," kata David saat konferensi pers yang digelar di Denpasar, Rabu (8/5/2019).

Sementara kurator film Emmanuela Sinta mengungkapkan tak ada kriteria khusus untuk film yang bisa masuk dalam acara ini.

Intinya terkait dengan keberadaan masyarakat adat, permasalahan adat maupun dokumentasi tentang adat.

"Ada yang mengangkat hak-hak masyarakat adat, dokumentasi kisah leluhur, dan pelestarian," katanya.

Baca:  30 Ekor Sapi Tak Layak Potong Bisa Keluar Bali, Dinas Karantina Kecolongan?

Baca: Festival Ramadan, Wadah Bagi Usaha Kuliner Mikro Berburu Berkah di Bulan Puasa

Emmanuella mengatakan dengan film ini masyarakat adat bisa bebas bersuara tanpa intervensi.

"Ada juga yang akan ditampilkan yakni video advokasi tentang konflik tanah. Setiap masyarakat berani tampil lewat kisahnya. Itu semua kisah real," katanya.

Seorang sutradara asal Amerika Serikat, Hugo Metz yang juga ikut dalam acara ini mengatakan, acara ini bisa menyuarakan diskriminasi yang dilakukan terhadap masyarakat adat, juga tentang alih fungsi hutan.

"80 persen keragaman hayati di dunia ini berada di tanah yang dikelola masyarakat adat. Kalau hilang kita akan kehilangan, air, hutan, dan agriculture," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved