Ngopi Santai

Bagaimana Menyatukan Kembali Indonesia yang Terbelah? (1)

Di Indonesia kita sudah mengalaminya sejak Pilpres 2014 hingga sekarang. Bahkan kita punya idiom khusus yang sangat romantis: Cebong Vs Kampret.

Bagaimana Menyatukan Kembali Indonesia yang Terbelah? (1)
DOK Pribadi
Ahmad Faiz Zainuddin. 

Bahwa kita ingin hidup berkelompok bukanlah masalah.

Yang jadi masalah adalah jika gara-gara tribalisme ini, kita jadi perang beneran.

Akan semakin parah jika cara kita melihat dunia menggunakan doktrin George W. Bush saat mengobarkan perang di Irak: "If you not with us, you against us". Jika kamu tidak bersama kelompokku, maka kamu adalah musuhku.

2. SELERA (INTUITION) MENGALAHKAN AKAL (REASON):

Bahkan orang yang merasa paling rasionalpun sebenarnya dikendalikan terutama oleh selera politik, agama, dan makanannya.

Kita ini paling pinter bikin alasan rasional atas pilihan selera yang telah kita tetapkan lebih dulu.

Begitu anda sudah memilih bergabung dalam pasukan cebong atau kampret, maka semua yang dilakukan rival anda akan tampak salah, dan semua yang dilakukan pihak anda akan nampak indah.

Para psikolog sosial menyebut fenomena yang sudah jamak ini sebagai motivated reasoning atau confirmation bias.

3. PERANG SUDAH LAMA USAI:

Joe Henrich, Profesor Antropologi dari Harvard University, menemukan bahwa para pemuda yang hidup di zaman perang, akan cenderung "suka bekerjasama" bahkan 30 tahun setelah perang usai.

Di Amerika dan Eropa, mereka disebut "The Greatest Generation".

Mereka yang pernah mengalami pahitnya masa Perang Dunia (PD), dipaksa kerjasama dan punya etos kerja tinggi, sehingga melahirkan masa keemasan Amerika & Eropa setelah usai PD II.

Generasi ini telah pensiun di tahun 90-an.

Generasi setelahnya, yang tidak pernah "bersatu melawan musuh dari luar", cenderung suka berantem sesama anak bangsa.

Dan nampaknya gejala ini juga terjadi di negeri kita tercinta ini.

4. KEBENCIAN MASSAL DI MEDSOS DAN INTERNET:

Tiga hal di atas diperparah dengan kebebasan akses dan berkomentar di medsos.

Ini membuat skala masalah yang kita hadapi jadi masif.

Lihatlah komentar-komentar di medsos dalam perang antara cebong dan kampret (saya sebenarnya risih dengan istilah ini, terpaksa saya pakai di sini agar kita sadar akan "kegawatan" situasi saling benci di bangsa kita saat ini).

Anda akan temukan segala kata-kata kotor di sana, umpatan-umpatan kasar bertebaran, rasa respek dan empati lenyap.

Kita jadi heran dan sedih, sepertinya ini bukan akhlak dan perangai asli bangsa kita.

Toh nyatanya ini terjadi dengan skala yang makin lama makin mengkhawatirkan, jika tidak kita bangun "jembatan cinta" diantara mereka.

5. ASAL BUKAN DIA, JANGAN DEKAT-DEKAT MEREKA:

Alan Abramowitz, peneliti masalah politik Amerika, menyebut pemilu terakhir di Amerika kemarin (saya kira juga di Indonesia barusan) memiliki dampak paling merusak yang tidak pernah terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya.

Para pemilih dirayu untuk memilih bukan dengan menunjukkan kebaikan-kebaikan program yang diajukan seorang capres, tapi dipancing emosinya yang paling kuat dan merusak: Kebencian terhadap capres lain.

Semangat "negative partisanship" ini akan meninggalkan "wabah saling benci" yang berbahaya dan menular di tengah masyarakat, bahkan jauh hari setelah pemilu usai.

Mudarat dari strategi kampanye ini sangat besar jauh melebihi manfaat yang hendak diraih.

Dan luka ini semakin sulit disembuhkan karena mereka yang segolongan semakin solid dengan kelompoknya dan semakin menjauh dengan penuh kebencian dari kelompok lawan.

Di Amerika mereka bahkan bikin peta yang memilah negara-negara bagian mana yang mayoritas kelompok kita versus negara-negara bagian (provinsi) mana yang masuk kategori "provinsi musuh".

Bukankah gejala ini juga terjadi di sini?

Maka bagaimana solusinya? bagaimana cara menyembuhkan bangsa kita yang sedang terbelah ini?

Insya Allah akan kita bahas di tulisan berikutnya, dengan syarat ada cukup banyak yang peduli untuk membangun "jembatan cinta" antar sesama anak bangsa. (*)

*) Ahmad Faiz Zainuddin adalah Founder SEFT

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved