Sutradara Berusia 14 Tahun, Kynan Tegar, Ikut Event International Indigenous Film Festival di Ubud

Dari 40 film yang akan diputar dalam Bali International Indigenous Film Festival tahun 2019, ada satu film yang disutradarai oleh seorang remaja

Sutradara Berusia 14 Tahun, Kynan Tegar, Ikut Event International Indigenous Film Festival di Ubud
Tribun Bali/Putu Supartika
Konferensi pers Bali International Indigenous Film Festival (BIIFF) tahun 2019 

Acara yang bertajuk Stories That Matter ini akan digelar 10-13 Mei 2019 di Njana Tilem Museum Ubud saat pembukaan dan pemutaran film ini akan digelar di Paradiso Theatre Ubud, Bali.

Diperkirakan lebih dari 900 orang akan untuk menonton pemutaran film ini.

Pada event yang kedua ini, ditayangkan sebanyak 40 film dari 14 negara seperti Panama, India, Ekuador, Panama, Amerka Serikat, Kanada, Malaysia, termasuk Indonesia dan akan dihadiri 35 sutradara baik dari masyarakat adat nusantara maupun dunia.

Co-founder BIIFF, David Metcalf mengatakan filmmaker yang ikut berpartisipasi merupakan filmmaker masyarakat adat nusantara dan internasional.

"Kami mempertemukan dan berbagi tentang kondisi adat lewat film. Berbagai suara-suara adat akan disampaikan dalam acara ini," kata David saat konferensi pers yang digelar di Denpasar, Rabu (8/5/2019).

Sementara kurator film Emmanuela Sinta mengungkapkan tak ada kriteria khusus untuk film yang bisa masuk dalam acara ini.

Baca: Masih Diperankan Prilly Latuconsina, Teaser Film Horor Danur 3: Sunyaruri Resmi Dirilis

Baca: 7 Film Berkisah tentang Bali dari Cinta yang Berakhir Tragis hingga Kisah Mistik yang Seram

Intinya terkait dengan keberadaan masyarakat adat, permasalahan adat maupun dokumentasi tentang adat.

"Ada yang mengangkat hak-hak masyarakat adat, dokumentasi kisah leluhur dan pelestarian," katanya.

Emmanuella mengatakan dengan film ini masyarakat adat bisa bebas bersuara bebas tanpa intervensi.

"Ada juga yang akan ditampilkan, yakni video advokasi tentang konflik tanah. Setiap masyarakat berani tampil lewat kisahnya. Itu semua kisah real," katanya.

Baca: Ini Bedanya Membintangi Film Drama dan Film Horor Menurut Della Dartyan

Seorang sutradara asal Amerika Serikat, Hugo Metz yang juga ikut dalam acara ini mengatakan lewat acara ini bisa menyuarakan diskriminasi yang dilakukan terhadap masyarakat adat, juga tentang alih fungsi hutan.

"80 persen keragaman hayati di dunia ini berada di tanah yang dikelola masyarakat adat. Kalau hilang kita akan kehilangan, air, hutan, dan agrikultural," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved