Wayan Dampuk Ceritakan Detik-detik 2 Rekannya 'Ditelan' Lumpur, 'Saya Juga Tertimbun 15 Menitan'

Saat itu ia Pan Aris dan Made Budi berdampingan sedang fokus bekerja (meratakan tanah) di atas jembatan

Wayan Dampuk Ceritakan Detik-detik 2 Rekannya 'Ditelan' Lumpur, 'Saya Juga Tertimbun 15 Menitan'
TRIBUN BALI/ I MADE PRASETIA ARYAWAN
I Wayan Dampuk (61), satu korban selamat atas jebolnya jembatan di Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Tabanan. 

Kesaksian I Wayan Dampuk yang Selamat dari Kejadian Mengerikan, 'Tertimbun Lumpur 15 Menitan'

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – “Ketika kejadian saya bertiga terjun ke bawah. Saya tertimbun lumpur hingga di bagian pinggang, tidak bisa menarik kedua kaki yang tertimbun lumpur yang sangat lengket saat itu. Kira-kira 15 menit saya dibawah. Kemudian, dua teman saya yang jadi korban sudah tidak kelihatan karena tertimbun material bangunan dan lumpur. Tapi saya juga hanya sempat liat tangan Pan Aris (Ketut Sudana) bergerak, bagian tubuh lainnya sudah tidak terlihat,” itulah kalimat yang pertama kali dilontarkan I Wayan Dampuk (61), satu korban jembatan jebol di Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Tabanan, yang selamat dari maut.

Kondisi pria yang juga merupakan Bendara Subak Palian ini juga sudah tampak normal ketika dikunjungi di rumahnya di Banjar Puseh, Desa Perean.

Ia pun mengaku sempat tak bisa tidur pasca kejadian yang dialami, terlebih lagi dua rekannya meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Baca: Melaju ke Final Liga Champions, Liverpool Justru Ditinggal Pemain Muda Berbakatnya

Baca: Kadek Asti Tiap Pagi Sapu-sapu Kondom Bekas Pakai di Kawasan Renon, Tak Punya Etika Gituan di Sini

Baca: Sapi Tak Layak Potong Lolos dari Pengawasan, Balai Karantina Gilimanuk Ogak Disebut Kecolongan

Ia pun kemudian menuturkan bagaimana ihwal peristiwa tersebut.

Awalnya, kata dia, krama Subak Palian sedang melaksanakan gotong royong untuk perbaikan jalan subak termasuk jalan di atas jembatan yang menghubungkan Banjar Puseh dengan Banjar Bunyuh, Desa Perean.

Saat itu ia Pan Aris dan Made Budi berdampingan sedang fokus bekerja (meratakan tanah) di atas jembatan sembari mengobrol dengan posisi menghadap ke timur.

Namun, ketika sedang fokus melaksanakan gotong royong, badan jembatan justru amblas dan mengakibatkan tiga orang krama subak jatuh ke dasar jembatan.

“Belum ada satu jam bekerja, saya sempat melihat ada retakan tanah, tapi seketika saja kemudian jebol dan saya merasa sudah dibawah. Mungkin di bawah jembatan itu kosong."

"Saya sempat teriak-teriak juga minta tolong. Apalagi saat berada di bawah, pas di atas kepala saya juga ada beton badan jembatan yang cukup besar yang hampir jatuh, untung saja tidak sampai jatuh karena masih merekat dengan besi yang ada pada beton itu. Jika itu jatuh, mungkin saya juga sudah tertimbun dengan dua rekan lainnya,” ceritanya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved