BBPOM Musnahkan 65.485 Produk Tak Memenuhi Ketentuan Senilai Rp 1,2 M, Kosmetik Paling Banyak

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar melakukan pemusnahan terhadap produk obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan

BBPOM Musnahkan 65.485 Produk Tak Memenuhi Ketentuan Senilai Rp 1,2 M, Kosmetik Paling Banyak
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Pemusnahan terhadap produk obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK) di halaman kantor Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar, Kamis (9/5/2019) pagi. BBPOM Denpasar Musnahkan Produk Tak Memenuhi Ketentuan, Kosmetik Paling Banyak 

BBPOM Denpasar Musnahkan Produk Tak Memenuhi Ketentuan, Kosmetik Paling Banyak

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar melakukan pemusnahan terhadap produk obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK).

Pemusnahan dilakukan di halaman kantor BBPOM Denpasar pada Kamis (9/5/2019) pagi, yang juga dihadiri oleh berbagai pihak, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Polresta Denpasar, Kejaksaan Tinggi Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Kantor Loka POM, dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Bali.

Kepala BBPOM Denpasar I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan, produk yang dimusnahkan yakni hasil operasi dari Juli 2017 hingga Desember 2018 yang diperkirakan bernilai Rp 1.050.701.405.

Selain itu, produk lain yang dimusnahkan yakni dari hasil operasi Kantor POM Buleleng selama tahun 2018 yang diperkirakan senilai Rp 205.557.450, dan arsip penandaan (obat dan rokok) dari tahun 2012 hingga 2018 yang diperkirakan memiliki nilai Rp 13.119.850.

Baca: Pertanian Organik Harus Dimulai dari Hulu ke Hilir, Dewan Usulkan Pemerintah Beri Subsidi Hasil

Baca: Waspada Gelombang Tinggi Capai 4 Meter di Beberapa Wilayah Bali, Begini Imbauan BMKG Denpasar

Aryapatni merinci berbagai komoditas produk tersebut, diantaranya obat keras dan temuan di sarana ilegal, pangan tanpa izin, dan kosmetik tanpa izin edar atau mengandung bahan terlarang.

Juga terdapat obat tradisional serta suplemen kesehatan tanpa izin edar atau mengandung bahan kimia obat; dan arsip sampel penandaan untuk obat dan rokok.

"Jadi totalnya 65.485 kemasan, taksiran harganya Rp 1,2 miliar. Jadi yang terbanyak adalah kosmetik tanpa izin edar dan atau mengandung bahan berbahaya," kata dia.

Dijelaskan olehnya, temuan kosmetik berbahaya ini paling banyak mengandung bahan mercuri dan hidrokinon.

Baca: Sosok Faisal Nasimuddin, Pria Yang Dikabarkan Dengan Luna Maya Bukan Orang Biasa, Ini Kekayaannya

Baca: Dukung Birokrasi Bersih, Lanal Denpasar Canangkan Pakta Integritas dan Zona Bebas Korupsi

Obat dengan bahan kandungan berbahaya ini masih terus beredar di pasaran disinyalir karena masih banyaknya masyarakat, terutama para ibu-ibu yang termakan oleh iklan kosmetik.

Iklan kosmetik itu biasanya berisikan janji-janji manis bisa memutihkan kulit.

"Ini juga perlu ada edukasi terus-menerus dari kami pemerintah agar konsumen tidak tergiur iklan. Ya kita kan hidup di daerah tropis ya, enggak mungkin jadi putih. Jadi putih karena enggak sehat kan enggak baik," tuturnya.

Zat-zat pemutih mercuri dan hidrokinon ini, jelasnya, sangat membahayakan karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti kanker kulit dan gangguan organ tubuh lainnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved