Soroti Kawasan Subak Jatiluwih, DPRD Bali Dorong Pemkab Tabanan Susun RDTR

Masifnya para investor yang melirik Warisan Budaya Dunia (WBD) Subak Jatiluwih menyebabkan beberapa kawasan itu saat ini mulai beralih fungsi

Soroti Kawasan Subak Jatiluwih, DPRD Bali Dorong Pemkab Tabanan Susun RDTR
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Dua orang wisatawan tampak sedang menikmati suasana persawahan di DTW Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Selasa (23/4/2019). 

Justru yang dibentuk yakni Badan Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih.

Badan tersebut kini justru membangun berbagai sarana di lokasi persawahan Jatiluwih, yang terbaru yakni membangun sarana pendaratan khusus untuk helikopter atau helipad.

Baca: Triwulan I 2019 Inflasi Bali-Nusra Sebesar 2,06 Persen, Turun Dibanding Triwulan IV 2018

Baca: Manjakan Anak dengan Perawatan Pilihan di Dala Spa

“Itu menurut tiang. Kalau enggak dikendalikan terus itu, ya rusak. Maka itu tiang selalu menganjurkan jika pemkab Tabanan tidak mengendalikan fasilitas di sana, ya boikot saja Jatiluwih,” kata dia.

“Dulu kita mengusulkan semua neken (tanda tangan). Kita bareng neken, gubernur neken. Tapi setelah diakui lama-lama, 12 tahun kita perjuangkan, tapi setelah diakui kok gitu pengelolaannya dilakukan. Kan memalukan,” jelas Windia kesal.

Dirinya menekankan, negara-negra yang akan mengusulkan warisan budaya ke UNESCO yang bersifat living monument, seperti subak yang ada sawah dan petaninya maka harus juga melampirkan RDTR dengan tujuan pembangunan di sana bisa dikendalikan.

Lalu apakah sebenarnya di kawasan subak yang berstatus warisan budaya dunia tidak boleh membangun?

Prof Windi menjelaskan, sebenarnya hal tersebut boleh dilakukan asal mendapat persetujuan dari seluruh stakeholder, dan pembangunan tersebut tidak menyebabkan hilangnya outstanding universal value (OUV).

Dijelaskan, nilai OUV dalam subak yakni Tri Hita Karana yang didalamnya terdapat Parhyangan, Pawongan dan Pelemahan.

“Kalau palemahannya hancur, ya kan ndak bisa lagi kita mengusulkan sebagai warisan budaya dunia. Sebaiknya ditarik saja,” jelasnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved