Racik Kulit Rambutan dan Biji Pepaya Jadi Sampo, Siswa SMAN 3 Denpasar Raih Emas di Malaysia

enghargaan kali ini diraih dari kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) serangkaian dari 30th International Invention, Innovation and Techno

Racik Kulit Rambutan dan Biji Pepaya Jadi Sampo, Siswa SMAN 3 Denpasar Raih Emas di Malaysia
dokumentasi SMA Negeri 3 Denpasar
Para siswa SMA Negeri 3 Denpasar saat mengikuti kompetisi World Young Inventors Exhibition (WYIE) serangkaian dari 30th International Invention, Innovation and Technology Exhibition 2019 (ITEX'19) yang berlangsung dari 2 hingga 4 Mei di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia. 

Di pasar-pasar itu kan banyak banget yang buang-buang kulit rambutan tapi enggak dipakek dan enggak dimanfaatkan limbah organik itu secara maksimal. Jadi kita pakek itu. Ya nyarinya di pasar-pasar, soalnya di pasar itu banyak banget limbah organik yang tidak terpakek,” jelasnya.

Sementara pada saat lomba di Malaysia dirinya menuturkan para juri menanyakan soal pengujian produk sampo yang telah mereka buat.

Kemudian juri dari industri lebih menanyakan soal daya tahan dan harga jika seandainya produk tersebut akan dijual di pasaran.

Mengenai pertanyaan yang muncul itu, pihaknya menjawab bahwa jika untuk dipasarkan rencananya akan dijual dengan harga Rp 20 ribuan, sama seperti harga sampo lainnya di pasaran.

“Dari bahan-bahan tersebut kita udah kalkulasiin sebelumnya dan kalau itu dibagi rata itu kira kira Rp 20 ribuan. Dan kalau tentang tahan lamanya itu kira-kira bisa kurang lebih satu tahun,” terangnya.

Saat ini, kata dia, produk berupa shampo dari bahan organik ini sudah jadi dan melalui tes uji sesuai dengan standar shampo lainnya di pasaran.

Pengujiannya dilakukan di laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana (FTP Unud).

Kepala SMA 3 Denpasar Ida Bagus Sudirga saat dimintai keterangan mengaku senang dengan anak didiknya yang sudah berkreativitas dan berinovasi untuk menekuni riset-riset seperti ini.

Menurutnya, ke depan hal ini akan terus ditingkatkan sehingga para siswa dalam mengikuti pelajaran sains juga sekaligus bisa langsung menerapkan.

"Jadi mudah-mudahan anak-anak terus menggali potensi dirinya dan saya selaku kepala sekolah memberikan motivasi terus baik secara spiritual maupun material sesuai dengan kondisi anggaran sekolah," tuturnya.

Model pembinaan selama ini, kata dia, memang sudah diberikan waktu kepada masing-masing pembina, tidak hanya pada waktu jadwal tetap, tetapi juga pada jadwal lain sesuai dengan kesanggupan siswa di luar jadwal rutin.

"Sehingga kadang juga anak-anak malam mengerjakan tugas-tugas. Tentu dengan pertimbangan-pertimbangan juga," tuturnya.

"Jadi waktu memang kita berikan alokasi penuh kepada pembina dan komitmen kepada siswa," jelasnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved