Simpang Ring Banjar

Sucikan Krama Cerai Lewat Mesamsam, Tetap Dikenakan Denda untuk Efek Jera

Pesamsaman merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman dulu, namun tetap dilakukan oleh generasi selanjutnya

Sucikan Krama Cerai Lewat Mesamsam, Tetap Dikenakan Denda untuk Efek Jera
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Bagian Depan Pura Puseh Bale Agung, tempat digelarnya prosesi pesamsaman. 

Suandi juga menjelaskan jika sebelum upacara mesamsam pihak adat akan melakukan mediasi.

Proses ini sama dengan apa yang dilakukan, saat pasangan suami istri mengajukan cerai di Pengadilan Negeri.

Dikatakan, ada perbedaan mediasi yang dilakukan oleh adat dan pengadilan.

Jelas Suandi, mediasi yang dilakukan secara adat mewajibkan kedua pasutri untuk hadir.

Ini mengingat tujuan awal adalah agar kedua pasangan yang mengajukan cerai, diharapkan bisa kembali rujuk.

“Saat ini kebanyakan yang memohon pesamsaman sudah membawa putusan pengadilan, dengan bukti akta perceraian. Sebab itu di adat tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan harus ditindak lanjuti dengan pesamsaman,” katanya.

Dalam ritual pesamsaman, lanjut Suandi, kedua pasangan yang mengajukan cerai tidak musti hadir.

Begitupun bagi pasangan yang menikah di luar daerah, andaikan perceraian yang dilakukan telah sah, saat pulang ke Kubu wajib menggelar upacara mesamsam sendiri.

Baca: Kasih Ramadan, Persit Kodim 1617/Jembrana Berbagi Sembako ke Pemulung TPA Peh

Baca: Warna Keberuntungan Kamu di Tahun 2019 Menurut Shio, Kuning Kecoklatan untuk Shio Kelinci

“Dalam rangkaian mesamsam, pasangan yang mengajukan cerai juga membayar denda. Itu sebagai shock terapi agar tidak lagi ada warga yang melakukan cerai. Dan tujuan awalnya mengenai denda ini, bukan semata-mata untuk pemasukan ke adat,” ujarnya. 

Nimbang Sanganan Kuskus Injin

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved