Pakrimik Maestro Seni Penerima Wijakusuma di Gianyar Terkait Piagam dan Uang Rp 50 Juta

Para maestro seni Kabupaten Gianyar, yang mendapatkan penghargaan Wijakusuma sebelum tahun 2019, cemburu dengan peraih Wijakusuma tahun ini

Pakrimik Maestro Seni Penerima Wijakusuma di Gianyar Terkait Piagam dan Uang Rp 50 Juta
Tribun Bali/Eri Gunarta
Maestro Tari, I Dewa Rai Budiasa 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Para maestro seni Kabupaten Gianyar, yang mendapatkan penghargaan Wijakusuma sebelum tahun 2019, cemburu dengan peraih Wijakusuma tahun ini.

Pasalnya, selain mendapatkan piagam, mereka juga mendapatkan uang tunai Rp 50 juta per orang dan BPJS Ketenagakerjaan.

Sementara peraih Wijakusuma sebelumnya, hanya mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan. Merekapun berharap mendapatkan perhatian yang sama dengan peraih Wijakusuma tahun ini.

Maestro Tari, I Dewa Rai Budiasa, peraih Wijakusuma tahun 2010 mengatakan, dirinya kerap menerima keluhan (curhat) dari peraih Wijakusuma sebelum 2019.

Kata dia, banyak yang mengaku cemberu dengan perhatian pemerintah pada seniman tahun ini, yang mendapatkan uang Rp 50 juta.

Padahal jika dilihat dari segi pengabdian, merekalah yang lebih berjasa dalam memperkenalkan kesenian Bali ke luar negeri. Bahkan, para penerima Wijakusuma 2019 ini, merupakan murid-muridnya.

“Banyak yang curhat ke saya seperti itu. Kalau dilihat dari pengabdian, memang seniman-seniman peraih Wijakusuma di bawah tahun 2019 itu lebih besar. Karena kami mengembangkan seni, hingga dikenal dunia seni internasional, sebelum seni Bali, khususnya Gianyar itu dikenal,” ujar seniman asal Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Payangan yang pernah selama 15 tahun ditugaskan Kedutaan RI, mengajarkan seni Bali di Jerman.

Karena hal tersebut, pihaknya sangat berharap Pemkab Gianyar memberikan perhatian yang sama pada semua maestro yang dimiliki.

Dalam hal ini pihaknya tidak menuntut memperoleh uang Rp 50 juta. Namun setidaknya pemerintah meringankan beban hidup para maestro.

Seperti membayarkan tagihan listrik, air serta memberikan kartu jaminan kesehatan gratis.

“Yang kami dapatkan baru sebatas BPJS Ketenagakerjaan. Hal itu dirasakan kurang efektif, karena hanya bisa dipakai saat kita sedang kecelakaan, dan itupun kalau kecelakaan jika sedang pentas. Di sisi lain, para maestro kebanyakan tak aktif lagi dalam pementasan.

"Kebanyakan jadi pembina karena kondisi fisik yang tak memungkin kan untuk pentas. Jadi dapat dikatakan, kartu yang diterima itu tidak berfungsi sama sekali. Kalau bisa, pemerintah tanggung biaya listrik dan air, serta berikan kartu BPJS Kesehatan kelas I,” harapnya.

Rai Budiasa mengatakan, bila Pemkab Gianyar memang ingin melestarikan kesenian tradisional, saat ini sangat diperlukan pusat berkesenian atau Youth Center di setiap kecamatan.

Selain menyiapkan gedung, Pemerintah Gianyar juga harus menyiapkan piranti gamelan, serta guru seni dengan melibatkan siswa SMKN 3 Sukawati.

“Kenapa perlu seperti itu? Karena saya mengamati terjadinya degradasi kesenian di pedesaan. Jangankan belajar seni, berbahasa Bali pun mereka tidak mau. Berbeda denga anak-anak di kota, yang justru lebih aktif dalam melestarikan budaya. Makanya, di tiap kecamatan harus ada Youth Center,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved