LBH APIK Imbau Perempuan Pekerja Segera Melapor Jika Mendapat Penganiayaan

Kasus penganiayaan majikan terhadap PRT di Gianyar mendapat sorotan dari LBH APIK

LBH APIK Imbau Perempuan Pekerja Segera Melapor Jika Mendapat Penganiayaan
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Dirut LBH APIK Bali, Ni Luh Putu Niladewi saat ditemui di Hotel Neo Denpasar, Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Bali, Minggu (19/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Direktur Utama Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan Bali (LBH APIK Bali), Ni Luh Putu Niladewi mengimbau kepada para perempuan pekerja, yang bekerja dengan seseorang atau pada orang lain, jika mendapat penganiayaan, termasuk tidak diberikan gaji dalam jangka waktu minimal 2 atau 3 bulan untuk segera melapor.

"Tidak digaji itu termasuk juga dalam bentuk kekerasan. Harus segera lapor. Paling tidak ke teman, tetangga, atau ketua RT setempat. Karena mereka itu bisa membantu melaporkan. Tidak harus mereka sendiri yang melapor," pungkasnya.

Kasus penganiayaan majikan terhadap PRT di Gianyar mendapat sorotan dari LBH APIK Bali.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pembantu rumah tangga (PRT) di Gianyar disiram air panas oleh majikannya.

Direktur Utama Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan Bali (LBH APIK Bali), Ni Luh Putu Niladewi menyayangkan kejadian tersebut.

"Saya sangat menyayangkan ya, mengapa korban tetap memilih bertahan. Sudah diperlakukan seperti itu harusnya cepat lapor. Jujur kepada diri sendiri, tetangga atau orang terdekat. Mengapa itu bisa dilakukan berulang-ulang dan membiarkan dirinya dilukai seperti itu terus dibiarkan," ucapnya saat ditemui Tribun Bali, Minggu (19/5/2019).

Nila menjelaskan, perempuan yang menjadi pelaku penganiayaan bisa karena dia juga pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Baca: TRIBUN WIKI - 19 Nomor Telepon Penting dalam Kondisi Darurat, dari BPBD, SAR hingga Damkar

Baca: Triwulan I 2019 Kunjungan Wisatawan ke Badung Turun 105 Ribu

Baik bentuk kekerasan secara fisik maupun psikis, yang akhirnya memilih meluapkan emosinya dengan cara menyakiti orang-orang terdekat di sekitarnya.

"Seorang perempuan yang melakukan kesalahan fatal pasti ada sebabnya. Kalau kita melihat sampai terjadi seperti itu kembali ke pelakunya sendiri,"

"Kalau saya lihat dari kronologisnya sih, sebenarnya pelaku sendiri sebelumnya juga menjadi korban KDRT, berupa penelantaran yang dilakukan oleh suaminya. Ia hidup sendiri, menghidupi dirinya sendiri dan anaknya, status janda juga tidak, bukan janda juga tidak. Jadi otomatis dia mudah emosi dengan orang-orang terdekat di sekitarnya," terangnya.

Baca: Persiapan Porsenijar Bali 2019 Sudah Maksimal, Atlet Gateball Badung Siap Bertanding

Baca: Outlet Ketujuh Krisna Oleh-Oleh Khas Bali Dibangun dengan Konsep Premium

Pihaknya menuturkan, baik korban maupun pelaku tetap memerlukan pendampingan seorang psikiater untuk menghilangkan rasa trauma dan mengetahui keadaan kejiwaannya.

"Pelaku dan korban tetap memerlukan psikiater. Agar tidak menyisakan trauma bagi korban dan mengetahui keadaan kejiawaan pelaku. Paling tidak meringankan hukuman. Bukan membela kesalahannya," ujarnya.(*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved