Imbas Jebolnya Tanggul Munduk Bebengan, Ratusan Hektare Sawah di Bangli Terancam Kekeringan

Lahan pertanian di wilayah Subak Pecala, Kelurahan Bebalang, Bangli mengalami kekeringan sejak dua bulan terakhir.

Imbas Jebolnya Tanggul Munduk Bebengan, Ratusan Hektare Sawah di Bangli Terancam Kekeringan
Tribun Bali/Fredey Mercury
Kelian Subak Pecala, I Nyoman Suarjaya ketika menunjukkan lahan pertanian yang kering di Subak Pecala, Bangli, Senin (20/5/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Lahan pertanian di wilayah Subak Pecala, Kelurahan Bebalang, Bangli mengalami kekeringan sejak dua bulan terakhir.

Kondisi ini merupakan imbas dari tanggul Munduk Bebengan yang jebol pada pertengahan Maret lalu.

Jebolnya tanggul yang berlokasi di Banjar Tegallalang, Kelurahan Kawan, Bangli ini akibat hujan deras yang sempat melanda Kota Bangli. Jebolnya tanggul mengurangi pasokan air irigasi, termasuk di Subak Pecala.

Berdasarkan pantauan Tribun Bali pada Senin (20/5/2019), tanah maupun saluran irigasi di Subak Pecala sangat kering.

Kondisi lahan pertanian yang terancam kekeringan di Subak Pecala, Bangli, Senin (20/5).
Kondisi lahan pertanian yang terancam kekeringan di Subak Pecala, Bangli, Senin (20/5). (Tribun Bali/Fredey Mercury)

Beberapa lahan pertanian dibiarkan tidur dengan masih menyisakan bekas padi yang telah mengering. Sementara lahan pertanian lainnya, masih terlihat produktif sebab ditumbuhi tanaman kedelai.

Menurut Kelian Subak Pecala, I Nyoman Suarjaya, kedelai itu ditanam oleh petani pasca panen padi bulan Januari lalu.

Hal ini dilakukan sebab masih memasuki musim penghujan. Kedelai yang kini tumbuh, lanjut Suarjaya, sebenarnya juga tidak ditanam dengan pemeliharaan rutin.

“Artinya tidak dipupuk, dan sebagainya. Kedelai ini ditanam karena masih ada hujan. Istilahnya penanaman ini untung-untungan. Kalau mau mentik ya syukur, kalau tidak ya dibiarkan saja,” katanya.

Suarjaya menambahkan, kedelai di areal Subak Pecala bisa dipanen sekitar 30 hari mendatang. Dalam satu areal pertanian juga terlihat ada tanaman padi yang tumbuh.

Namun menurut Suarjaya, padi yang tumbuh merupakan singgangan, atau sisa padi yang telah dipanen sebelumnya.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved