75 Persen Warganya Jadi Perajin, Banjar di Sidemen Karangasem Ini Jadi Sentral Kerajinan Layangan

Banjar Dinas Sindu Bali, Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menjadi salah satu sentral kerajinan membuat layang-layang

75 Persen Warganya Jadi Perajin, Banjar di Sidemen Karangasem Ini Jadi Sentral Kerajinan Layangan
Tribun Bali/Saiful Rohim
BANJAR Dinas Sindu Bali, Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menjadi sentral kerajinan membuat layang-layang. Dari 396 kepala keluarga (KK) di Sindu Bali, hampir 75 persen bekerja menjadi perajin layang-layang. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Banjar Dinas Sindu Bali, Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menjadi salah satu sentral kerajinan membuat layang-layang.

Dari 396 kepala keluarga (KK) di Sindu Bali, hampir 75 persen bekerja menjadi perajin layang-layang.

Perajin layang-layang Ketut Puja mengaku, masyarakat Sindu Bali menggeluti kerajinan layang layang sejak 1980-an. Berawal dari coba-coba, hingga kini menjadi kebiasaan warga.

"Hampir setiap KK menggeluti kerajinan ini," ungkap I Ketut Puja.

Pembuat layang-layang hanya membutuhkan bambu, kain, dan benang. Setiap orang bisa menuntaskan sekitar 25-30 layang per minggu.

Bentuk layang-layang bervariatif, dengan ukuran beda-beda tiap layang. Di antaranya kupu-kupu, burung, serta naga.

BANJAR Dinas Sindu Bali, Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menjadi sentral kerajinan membuat layang-layang. Dari 396 kepala keluarga (KK) di Sindu Bali, hampir 75 persen bekerja menjadi perajin layang-layang.
BANJAR Dinas Sindu Bali, Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menjadi sentral kerajinan membuat layang-layang. Dari 396 kepala keluarga (KK) di Sindu Bali, hampir 75 persen bekerja menjadi perajin layang-layang. (Tribun Bali/Saiful Rohim)

"Layang-layang yang sudah jadi dikirim ke Pasar Seni Sukawati, Ubud, Klungkung, Denpasar, hingga ke Badung. Pengepulnya datang sendiri dari berbagai daerah luar Karangasem," tambah Ketut Puja.

Kelian Banjar Dinas Sindu Bali, Putu Arta mengutarakan hal sama. Satu perajin bisa menghasilkan 25-30 layang.

Harga bervariatif, tergantung ukurannya. Untuk ukuran kecil harganya capai 25 ribu, ukuran sedang 40 ribu, besar capai 60 ribu.

"Layang-layang dari Sindu Bali sudah dikenal di Provinsi Bali. Kalau ada layang-layang kain di pasar berarti itu dari Sindu Bali," tambah Putu Arta.

Ditambahkan, perajin bisa mendapat 80-100 ribu per hari. Penghasilan cukup untuk kebutuhan tiap hari.

Selain itu sebagian warga Sindu Bali juga menjadi perajin endek. Warga yang menekuni kerajinan endek sebagian besar dari kalangan ibu-ibu.

Mereka bisa tuntaskan menenun 1 lembar kain per minggu. Endek Sidemen juga dikenal di luar Krangasem.

Putu Arta berharap, kerajinan layang-layang dan endek di Sindu Bali bisa mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah Karangasem.

Sampai hari ini, kata Putu Arta, perajin di Sindu Bali belum dapat pembinaan serta bantuan dari pemerintah. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved