Kakek Tertua di Indonesia Meninggal di Usia 193 Tahun, Wasiatnya Mbah Arjo Suwito Minta 2 Petasan

"Kalau wasiatnya saat masih gerah di rumah sakit, mbah Arjo minta agat saat mayatnya diangkat dari rumah duka,

Kakek Tertua di Indonesia Meninggal di Usia 193 Tahun, Wasiatnya Mbah Arjo Suwito Minta 2 Petasan
SURYA/IMAM TAUFIQ
Mbah Arjo Suwito, manusia tertua di Indonesia asal Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar semasa hidup. 

Mbah Arjo Suwito, Kakek Tertua di Indonesia Meninggal di Usia 193 Tahun, Wasiatnya Minta 2 Petasan

TRIBUN-BALI.COM, BLITAR - Masih ingat Mbah Arjo Suwito, kakek tertua di Indonesia, yang asal Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, meninggal dunia, Selasa (21/5/2019) malam.

Itu setelah ia dirawat di RSUD Mardi Waluyo, Wlingi, sejak Jumat (17/5/2019) malam lalu, karena merasa badannya agak lemas.

Jasad kakek yang usianya diklaim 193 tahun itu, dimakamkan di TPU Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Rabu (22/5/2019) siang.

Atas wasiat almarhum, saat mayatnya dimasukkan ke liang lahat, dibunyikan petasan.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Liga 1 2019, Borneo FC Vs Arema FC

Baca: Ini Daerah Terdampak Pembatasan Penggunaan WhatsApp, Instagram dan Facebook

Baca: Live Streaming Borneo FC Vs Arema FC Kick-off 21.00 WITA, Kedua Tim Nafsu Menang

Baca: Penasaran Gempa dan Tsunami Palu, Peneliti Dunia Rekonstruksi Kejadian Berbasis Medsos

"Kalau wasiatnya saat masih gerah di rumah sakit, mbah Arjo minta agat saat mayatnya diangkat dari rumah duka, untuk dibawa ke makam, agar dibunyikan petasan dua. Itu juga kami turuti," kata Widodo, Kades Gadungan.

Tak hanya itu, mbah Arjo juga berwasiat, agar saat jasadnya dimasukkan liang lahat, juga disambut dengan dua suara petasan.

"Semua wasiatnya, sudah kami realisasikan semua. Sebab, beliau itu orang baik, sabar dan sesepuh kita. Hidupnya hanya menjalani kesabaran, dengan tinggal jauh dari keramaian," ungkapnya.

Menurut Widodo, mbah Arjo itu orang tertua di Indonesia. Berdasarkan catatan di buku desa, tertulis tahun angka kelahirannya 1825.

Sebelum tinggal di lereng Gunung Kelud, tepatnya di Gunung Gedang, mbah Arjo, katanya pengembara. Baru tahun 90-an, ia tinggal di tengah hutan, atau di lereng Gunung Kelud, dengan membuat rumah sederhana.

Halaman
12
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved