Telusuri Penyebaran Rabies di Desa Paksebali Klungkung, Dinas Terkait Uji Lab Sampel Otak Anjing

Ada sekitar 8 anjing liar yang dieliminasi, dan 5 di antaranya diambil sampel otaknya untuk di test laboratorium Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar

Telusuri Penyebaran Rabies di Desa Paksebali Klungkung, Dinas Terkait Uji Lab Sampel Otak Anjing
istimewa
Ilustrasi penyuntikan vaksin Rabies 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Pasca meninggalnya AA Gede Rai Karyawan (22) karena positif rebies, Tim Bidang Keswan Dinas Pertanian Klungkung langsung melakukan eliminasi terhadap anjing liar di Desa Paksebali.

Ada sekitar 8 anjing liar yang dieliminasi, dan 5 di antaranya diambil sampel otaknya untuk di test laboratorium Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar.

"Hasil labnya belum keluar. Test ini untuk mengetahui, apakah rabies ini telah menyebar di Desa Paksebali? Mengingat riwayat gigitan pada korban itu terjadi sekitar pertengahan bulan Januari lalu," ujar Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida, Selasa (21/5/2019).

Selain itu Bidang Keswan juga melakukan penelusuran terkait anak anjing yang mengigit AA Rai Karyawan tersebut.

Baca: Sempat Dikira Kesurupan Dan Dibawa Ke Balian, Ternyata AA Gede Rai Meninggal Karena Positif Rabies

Dari hasil penelusuran, anak anjing itu ternyata juga sempat menggigit warga lainnya asal Desa Paksebali, Putu Bentir.

"Setelah dicek oleh Dinas Kesehatan, beruntung warga tersebut sudah mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies)," jelas Juanida.

Sementara secara keseluruhan, menurutnya populasi anjing liar di Klungkung masih sekitar 14.000 ekor.

Pihaknya pun sudah melakukan vaksinasi masal, termasuk eliminasi secara selektif untuk memutus angka penyebaran rabies di Klungkung.

"Kendala masih sering kami temui, petugas kami sering di komplain melakukan elimiansi. Padahal anjing itu dilepas liarkan, atau dipelihara kurang baik. Sempat petugas kami melakukan eliminasi atas permintaan kepala lingkungan setempat. Tapi justru petugas kami yang dikomplain," ungkap Juanida.

Menurutnya, sangat sulit untuk mencapai nihil kasus rabies jika masyarakat belum memelihara hewannya dengan baik.

Baca: Kronologi Gede Rai Meninggal Digigit Anjing Rabies, Firasat Aneh Sang Ibu: Minta Sembahyang Bersama

Budaya masyarakat yang membuang anjing betina di pasar, atau di tempat-tempat tertentu justru membuat populasi anjing liar semakin banyak dan meningkatkan resiko tersebarnya rabies

"Memang tahun 2017 kami di Klungkung nihil rabies, tapi itu sulit dipertahankan jika wilayah di sekitar Klungkung seperti Bangli, Karangasem, dan Gianyar masih ada kasus rabies. Anjing liar itu mobilisasinya cukup luas," jelasnya.

Menurutnya, hal yang paling tepat memutus angka penyebaran rabies yaitu dengan memelihara anjing dengan baik dan memberinya vaksin secara rutin. Selain itu, juga dengan tidak melepas liarkan anjing peliharaannya.

"Kami juga perlu kesadaran bersama, karena ini tanggung jawab bersama. Termasuk jangan sekali-kali menyepelekan gigitan HPR (Hewan Penular Rabies)," jelasnya. (*) 

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved