Bali Termasuk Daerah Rawan Terorisme dan Radikalisme, FKPT Gelar Rembug Bersama Aparatur Desa

Menurut Setyo, paham radikal dan terorisme berkembang pesat melalui sarana media sosial, bahkan game online.

Bali Termasuk Daerah Rawan Terorisme dan Radikalisme, FKPT Gelar Rembug Bersama Aparatur Desa
Tribun Bali/Meika Pestaria Tumanggor
Suasana Rembug Bersama Aparatur Desa tentang Literasi Media melalui Forum Koordinasi Pencegahan dan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali, Kamis (23/5/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali/ Meika Pestaria Tumanggor

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam upaya melakukan pencegahan dini terhadap penyebaran paham radikal dan terorisme, Forum Koordinasi Pencegahan dan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali menggelar rembug aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi.

Kegiatan ini diikuti aparat, Kepala Desa/ Lurah, Babinkamtibmas, perwakilan media dan mahasiswa.

Ketua FKPT Bali Drs. I Gede Putu Jaya Suartama, M. Si mengatakan, peran perangkat desa dan Babinkantibmas sangat penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terpapar paham radikal dan terorisme.

"Sebagai aparat pemerintah yang dekat dengan masyarakat dan intens berinteraksi, perangkat desa atau Babinkamtibmas diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang bahaya paham radikal dan terorisme. Sehingga masyarakat tidak terjebak atau jadi korban berita hoax. Karena teroris atau penganut paham radikal saat ini sering menggunakan media mainstream dan media sosial untuk memprovokasi atau menyebarkan ajaran radikal," kata Gede Putu Jaya Suartama.

Baca: Walhi Apresiasi Keseriusan Pihak Gubernur, Namun Sidang Sengketa Informasi Belum Temui Titik Terang

Baca: Video Detik-detik Arifin Ilham Dijemput Maut, Puncaknya pada Pukul 22:45

Ditambahkan Ketua Bidang Media dan Hukum FKPT bali Emanuel Dewata Oja, media memiliki peranan penting dalam memerangi hoax, untuk membangun kepercayaan masyarakat.

"Media diharapkan menjadi bagian terpenting dari upaya memerangi hoax yang juga sering digunakan kalangan tertentu untuk menyebar paham radikal dan teroris. Media harus bisa membangun kepercayaan masyarakat bahwa media adalah sumber kebenaran informasi. Karena itu media harus menjadi cleaning house, rumah pembersih informasi," ujarnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diwakili oleh Kasi Partisipasi Masyarakat Seputi Pencegahan, Letnan Kolonel Setyo Pranowo.

Dalam pemaparannya, Setyo mengatakan bahaya teroris yang saat ini terjadi di Indonesia masuk kategori sedang, dan salah satu daerah yang berpotensi adalah Bali.

Baca: Curahan Hati Anggota Brimob di Bawaslu, Belum Tau Kapan Pulang, Istri Kerap Menangis Merindukannya

Baca: Wanita Diduga Bawa Bom Dekati Polisi di Aksi 22 Mei, Tak Hiraukan Peringatan Polisi, Ini Isi Tasnya

Maka baik masyarakat maupun perangkat pemerintah diminta peka terhadap lingkungan sekitar.

"Kalau ada orang yang mencurigakan, tidak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tidak mau hormat bendera, tidak mengakui Pancasila, itu adalah indikasi telah terpapar paham radikal dan terorisme. Maka cepat untuk dilaporkan, " kata Setyo.

Menurut Setyo, paham radikal dan terorisme berkembang pesat melalui sarana media sosial, bahkan game online.

"Media sosial adalah sarana utama yang perlu diwaspadai untuk penyebaran paham radikal dan terorisme. Karena melalui media sosial, dapat berinteraksi langsung," kata Setyo.

Baca: Tangis Seorang Kakek Karena Dagangannya Dijarah Massa Aksi 22 Mei, Hanya Bisa Menatap Pasrah

"Namun saat ini penyebaran paham radikal dan terorisme terus berkembang. Jika melalui media sosial, seperti WhatsApp, bisa disadap, jadi mereka komunikasi lewat jalur lain, salah satunya lewat game online," lanjut Setyo.

"Maka orangtua yang diharapkan dapat mengawasi anak-anak yang bermain game online agar tidak terpapar paham radikal dan terorisme," tambah Setyo. (*)

Penulis: Meika Pestaria Tumanggor
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved