WHO Prediksi Tahun 2020 Angka Bunuh Diri di Indonesia Secara Global 2,4 per 100.000 Jiwa

WHO memprediksi tahun 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara global menjadi 2,4 per 100.000 jiwa

WHO Prediksi Tahun 2020 Angka Bunuh Diri di Indonesia Secara Global 2,4 per 100.000 Jiwa
Tribun Bali/Rino Gale
Seminar pendekatan komprehensif untuk penguatan layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan di Ruang Pertemuan dr. A.A Made Djelantik, Fakultas Unud, Jalan Sudirman, Denpasar, Kamis (23/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - WHO memprediksi tahun 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara global menjadi 2,4 per 100.000 jiwa.

Hal ini dikatakan oleh Ketua Pelaksana dan juga sekaligus Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (SpKJ), dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana saat dikonfirmasi pada acara seminar "Inclusive Approaches To Mental Wellbeing: Strengthening Continuum Of Mental Health Care (Pendekatan Komprehensif Untuk Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Yang Berkelanjutan), di Ruang Pertemuan dr AA Made Djelantik, Fakultas Unud, Jalan Sudirman, Denpasar, Kamis (23/5/2019).

Ia menyampaikan, seseorang yang sehat secara kejiwaan dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya untuk menghadapi tantangan hidup, dan membangun hubungan positif dengan orang lain.

Sebaliknya orang yang kesehatan jiwanya terganggu akan mengalami gangguan mood, kemampuan berpikir dan kontrol emosional yang buruk.

Baca: 250 Peserta Ikut Seminar Pendekatan Komprehensif Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan

Baca: Target Perbaikan Jalan 5,6 Kilometer, Tekan Angka Kecelakaan di Jalur Tengkorak

"Kasus gangguan jiwa bisa terjadi pada trauma berkepanjangan akibat berbagai peristiwa alam seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir yang mengakibatkan Post Traumatic Stress Disorder," ujarnya.

Lanjutnya, gangguan jiwa juga bisa menimpa siswa sekolah seperti ketakutan yang berlebihan terhadap hasil ujian nasional, pedofilia, pemerkosaan maupun peristiwa lainnya sebagai pencetus.

Deteksi dini gangguan jiwa sangat penting dilakukan oleh keluarga dan tenaga kesehatan untuk mencegah seseorang yang mengalami gangguan jiwa jatuh dalam kondisi yang lebih parah.

Baca: Grand Prize Honda Scoopy Diundi Minggu Ini, Yuk Ikut Program Digital and Device Exhibition Telkomsel

Baca: Siswa Kerjakan Soal Pakai HP, SMK Pariwisata Dalung Terapkan Ujian Berbasis Android

"Puskesmas sebagai garda terdepan kesehatan masyarakat memegang peranan penting dalam pengelolaan penanganan kesehatan jiwa masyarakat  yang meliputi preventif, kuratif dan rehabilitatif," ujarnya.

Masalah kesehatan jiwa harus dipandang menjadi satu kesatuan melalui pendekatan biopsikospirit-sosiobudaya, dan tidak mengesampingkan terapi rasional farmakoterapi dalam penatalaksanaan gangguan jiwa.

"Tenaga kesehatan dan paramedis harus ditingkatkan kemampuannya dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan meliputi promosi kesehatan mengenai kemampuan deteksi dini masyarakat terhadap masalah masalah kesehatan jiwa, pengenalan tanda dan gejala gangguan jiwa di layanan primer, dan pemahaman farmakoterapi rasional psikotropika serta manajemen obat psikotropika di layanan primer," tuturnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved