Psikolog Sebut pada Usia 6-7 Tahun Anak Perlu Persiapan Mental saat Akan Masuk Sekolah

Selain harus mampu di akademis, mereka juga harus mampu secara mental dalam menghadapi hal-hal yang serius.

Psikolog Sebut pada Usia 6-7 Tahun Anak Perlu Persiapan Mental saat Akan Masuk Sekolah
Tribun Bali/Rino Gale
Psikolog, Ni Made Trisna Susanti saat ditemui Tribun Bali di Dian Selaras Konsultasi Psikologi dan Hipno di Jalan Tukad Gangga IV/12 Panjer, Denpasar, Jumat (24/5/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali- Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Anak-anak mulai masuk sekolah dasar dimulai saat usia enam tahun.

Hal itu harus dipersiapkan sebelumnya, karena selain harus mampu di akademis, mereka juga harus mampu secara mental dalam menghadapi hal-hal yang serius.

Hal ini disampaikan oleh Psikolog, Ni Made Trisna Susanti saat ditemui Tribun Bali di Dian Selaras Konsultasi Psikologi dan Hipno di Jalan Tukad Gangga IV/12 Panjer, Denpasar, Jumat (24/5/2019).

"Kenapa demikian? Karena seharusnya batas bermain anak-anak itu sampai usia tujuh tahun. Secara otomatis anak-anak usia enam tahun yang sudah masuk SD telah melompati masa perkembangan bermainnya. Maka dari itu, perlunya persiapan mental sebelum masuk SD. Karena apa? Karena masih banyak orangtua yang memasukan anak-anaknya ke sekolah pada usia 5-6 tahun. Kasian proses perkembangannya dilompati," ujar Trisna

"Anak laki-laki diharapkan selesai masa bermainya di usia 7 tahun sebetulnya karena lebih matang dibandingkan anak perempuan. Kalau anak perempuan cenderung tekun," tambahnya.

Baca: Sering Dianggap Sama, Berikut Perbedaan Penyu dengan Kura-Kura

Baca: TK Saraswati 2 Denpasar Pilih Bali Safari Marine Park sebagai Tempat Berlibur

Lanjutnya, usia rawan dalam menghadapi hal serius adalah ketika anak sudah memasuki kelas 3 sampai kelas 4 SD.

Pada usia ini, mereka sudah benar-benar yang menemukan pelajaran yang serius.

"Ini yang perlu adanya bimbingan orangtua. Jika tidak mampu konsultasikan kepada yang profesional," ujarnya.

Persiapan psikologis juga menjadi faktor penting sebelum anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Orangtua juga bisa membantu mempersiapkan perkembangan anak dengan menerapkan pola asuh yang positif.

"Ya ketika ada masalah tidak langsung menyalahkan anaknya. Tapi, mengajak mereka menyelesaikan problem tersebut. Juga, menghindari penggunaan kata-kata dan pelabelan yang negatif," ujarnya.

Baca: Akan Hadir Perangkat dari Amazon yang Bisa Membaca Emosi

Baca: Mengenal Gangguan Stres Pascatrauma dan Cara Mengatasinya

Di sisi lain, orangtua juga jangan terlalu memaksakan kemampuan anaknya.

"Dalam artian, orangtua harus mengatahui kemampuan anaknya sebelum masuk sekolah. Terkait kematangan fisik meliputi motorik kasar dan motorik halus. Kemudian, kematangan mental atau kognitif, kematangan emosi, dan kematangan sosial. Jika tidak, kasihan anaknya yang menyebabkan kurang konsentrasi dalam proses pembelajaran di sekolah," ujarnya lagi. (*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved