Pertumbuhan Penduduk Dua Kali Lipat, Pakar Kependudukan UGM Sebut Ada yang ‘Hilang’ di Bali

Dengan peningkatan faktor migrasi yang jumlahnya sepertiga dari komponen pertumbuhan penduduk, dikawatirkan taksu Bali bisa hilang

Pertumbuhan Penduduk Dua Kali Lipat, Pakar Kependudukan UGM Sebut Ada yang ‘Hilang’ di Bali
Tribun Bali/Rizal Fanany
Umat Hindu Bali melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Rabu (26/12/2018). 

Pertumbuhan Penduduk Dua Kali Lipat, Pakar Kependudukan UGM Sebut Ada yang ‘Hilang’ di Bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pakar Kependudukan UGM, DR Ni Wayan Suriastini mengatakan bahwa para tokoh nasional, tokoh dunia, dan wisatawan yang berkunjung ke Bali mengagumi dan melihat keunikan Bali karena memiliki aspek kultur spiritual yang berdasarkan pada Hindu Dharma.

Namun kondisinya kini telah berubah.

Suriastini menyebutnya dengan istilah ada yang ‘hilang’ di Bali.

Dengan peningkatan faktor migrasi yang jumlahnya sepertiga dari komponen pertumbuhan penduduk, dikawatirkan taksu yang unik dan dikagumi oleh orang-orang yang berkunjung ke Bali bisa hilang. 

“Misalnya dilihat dari sisi fisiknya, semua dibuat menjadi modern seperti terlihat di Kuta dan Legian. Hal Ini tampak bukan di daerah wisata saja, tapi juga di seluruh Bali,” kata Suriastini dalam paparannya saat acara simposium demografi dengan tema ‘Dampak Perubahan Struktur Penduduk Bali terhadap Tatanan Kehidupan Masyarakat Bali yang Dilandasi Nilai-Nilai Luhur Hindu Dharma’, di Wantilan Kantor DPRD Bali, Sabtu (25/5/2019).

Baca: Sopir Tiba-tiba dengar Suara Duk, Kernet Ini Ditemukan Tewas Seketika Terlindas Bus

Baca: Beberapa Kelainan Diderita Keluarga Kerajaan Akibat Perkawinan Sedarah, Termasuk Cleopatra

Setelah Bali mengalami perubahan demografi, serta adanya sektor pariwisata yang berkembang pesat, menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Bali menjadi cukup tinggi.

Hal ini menyebabkan hampir pekerja dari seluruh Provinsi di Indonesia tertarik untuk datang ke Bali.

Suriastini menyitir data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan terjadi peningkatan jumlah penduduk sejak tahun 1961 hingga tahun 2019 lebih dua kali lipat.

Disamping itu, ungkap dia, kepadatan jumlah penduduk di Bali juga meningkat, dari awalnya daya tampung 400 jiwa per kilometer, saat ini sudah menjadi 750 jiwa per kilometer.

Baca: Hand Tapping Tattoo Masih Jadi Favorit, Diburu Pencinta Tato Dalam Helatan Bali Tatto Expo 2019

Baca: Pengerjaan Dimulai Mei Mendatang, GOR Debes Diharapkan Bisa Digunakan Porprov Bali 2019

Perubahan komposisi penduduk Bali terkait dengan asal, etnis, status sosial, dan agama juga berubah akibat pertumbuhan penduduk dari faktor migrasi.

Selain itu, hal lainnya yang juga berubah akibat daya tampung yang berlebihan adalah bukan hanya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan, namun juga terjadinya krisis ekologi.

Misalnya terjadi krisis air bersih, dan masalah persampahan yang tak kunjung selesai. 

Masalah lainnya, sambung dia, banyak kaum migran yang tidak mengindahkan nilai-nilai spiritual Bali dan berdasarkan konsep Hindu Dharma.

“Ini kemudian yang menyebabkan krisis sosial karena adanya perebutan wilayah fisik, ekonomi dan kekuasaan. Serta yang lebih terpenting juga meningkatnya kriminalitas,” imbuhnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved