Tak Pernah Menyangka Jadi Pengajar SLB, Ratih Dalami Pendidikan Khusus hingga ke Norwegia

Ratih, sapaan akrabnya, telah mengabdi sejak tahun 1985 sebagai pengajar di SLB Negeri 1 Denpasar

Tak Pernah Menyangka Jadi Pengajar SLB, Ratih Dalami Pendidikan Khusus hingga ke Norwegia
Tribun Bali/Noviana Windri
Ni Wayan Ratih Tritamanti tengah memberikan pengarahan kepada murid-murid setelah pulang sekolah di SLB Negeri 1 Denpasar, Jalan Sersan Mayor Gede, Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, Sabtu (25/5/2019). Tak Pernah Menyangka Jadi Pengajar SLB, Ratih Dalami Pendidikan Khusus hingga ke Norwegia 

Tak Pernah Menyangka Jadi Pengajar SLB, Ratih Dalami Pendidikan Khusus hingga ke Norwegia

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mengabdi, mendidik, dan melatih anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah tugas yang mudah.

Hal tersebut dirasakan oleh perempuan paruh baya yang kini sudah berusia 59 tahun bernama Ni Wayan Ratih Tritamanti.

Ratih, sapaan akrabnya, telah mengabdi sejak tahun 1985 sebagai pengajar di SLB Negeri 1 Denpasar, Jalan Sersan Mayor Gede, Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali.

Ni Wayan Ratih Tritamanti, guru di SLB N 1 Denpasar, bersama murid-muridnya yang berkebutuhan khusus, Jumat Sabtu (25/5/2019).
Ni Wayan Ratih Tritamanti, guru di SLB N 1 Denpasar, bersama murid-muridnya yang berkebutuhan khusus, Jumat Sabtu (25/5/2019). (Tribun Bali/Noviana Windri)

Selain menjadi pengajar, Ratih adalah seorang Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SLBN 1 Denpasar.

Diceritakan, sebelum lolos tes CPNS yang menempatkannya untuk mengajar di SLBN 1 Denpasar, ia mengabdi di sekolah reguler di SMAN Ubud dan SMA Pembangunan.

Ia tidak pernah menyangka lolos CPNS dan menjadi pengajar di SLB.

Baca: Kisah Ni Wayan Ratih Tritamanti, Mengabdi 34 Tahun di Sekolah Luar Biasa

Baca: Kini Membela Kalteng Putera, Eks Pemain Bali United, Gede Sukadana Ngaku Lebih Dihargai di Luar

Awal menjadi pengajar di SLB Ratih mengaku kesulitan menulis soal-soal dengan huruf braile, serta mengajak anak-anak berkebutuhan khusus untuk keluar dari lingkungan sekolah, yang masuk dalam program orientasi mobilitas sosial komunikasi.

"Di awal tantangannya saya hanya tidak paham dengan huruf braile. Karena alat-alat untuk menulis soal ulangan itu dengan mesin membutuhkan banyak waktu dan tenaga karena berat sekali memencet mesin parkinsnya," terang perempuan yang sudah mengabdi selama 34 tahun.

Ni Wayan Ratih Tritamanti tengah memberikan pengarahan kepada murid-murid setelah pulang sekolah di SLB Negeri 1 Denpasar, Jalan Sersan Mayor Gede, Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, Sabtu (25/5/2019).
Ni Wayan Ratih Tritamanti tengah memberikan pengarahan kepada murid-murid setelah pulang sekolah di SLB Negeri 1 Denpasar, Jalan Sersan Mayor Gede, Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, Sabtu (25/5/2019). (Tribun Bali/Noviana Windri)
Halaman
12
Penulis: Noviana Windri
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved