Amor Ring Acintya, Pelantun Tri Sandya di TV dan Radio, Ida Pedanda Gede Made Tembau Tutup Usia

Amor Ring Acintya, Pelantun Tri Sandya di TV dan Radio, Ida Pedanda Gede Made Tembau Tutup Usia

Amor Ring Acintya, Pelantun Tri Sandya di TV dan Radio, Ida Pedanda Gede Made Tembau Tutup Usia
DOK PRIBADI
Amor Ring Acintya, Pelantun Tri Sandya di TV dan Radio, Ida Pedanda Gede Made Tembau Tutup Usia 

Sekolah yang mengajarkan pelajaran agama hindu hanya beberapa seperti SMP Dwijendra, dan Sekolah Pendidikan Agama Hindu.

Trisandya baru dipopulerkan setelah peristiwa G30SPKI, atau setelah era tahun 1966.

Trisandya ketika itu dipopulerkan di masyarakat, berbarengan dengan salam “Om Swastiastu”.

Orang pertama yang merekam lantunan puja trisandya sebenarnya adalah Almarhum Ida pedanda Gede Oka Puniadmaja dari Griya Pidada Klungkung yang ketika itu menjadi pengurus di PHDI Bali dan sempat menjadi anggota DPR RI.

Beberapa tahun berjalan, kaset rekaman lantunan Puja Trisandya satu-satunya dari Ida Pedanda Gede Oka Puniadmaja tersebut ternyata rusak, sehingga harus dibuat rekaman baru.

Karena kaset satu-satunya tersebut rusak, dibuatlah rekaman baru.

Tahun 1971, PHDI pun menunjuk Ida pedanda untuk rekaman melantunkan Puja Trisandya di RRI Denpasar, yang saat itu beralamat di Jalan Melati, Denpasar.

Saat itu Ida Pedanda masih kuliah di IHD (Institut Hindu Dharma) dan beliau dipilih karena suara dipandang mirip dengan suara almarhum Ida Pedanda Gede Oka Puniadmaja.

Hal itu pun disanggupi oleh Ida Pedanda Gede Made Tembau yang saat welaka bernama Ida Bagus Gede Diksa.

Saat rekaman puja trisandya tersebut, ia diiringi alunan genta oleh Ida Pedanda Pidada Keniten.

Rekaman inilah yang sempat menjadi rujukan dan diperdengarkan selama beberapa tahun di Radio Republik Indonesia Denpasar.

Setelah sekian lama, kaset yang berisikan rekaman puja trisandya tersebut kembali rusak.

Puja Trisandya pun sempat memasuki masa vacuum selama beberapa tahun.

Hingga tahun 1989, Ida Pedanda Gede Made Tembau kembali diminta untuk melakukan perekaman Puja Trisndya untuk yang ke dua kalinya.

Kali ini, proses rekaman dilakukan di TVRI untuk mengisi siaran Puja Trisandya di Televisi.

Mulai saat itu, lantunan rekaman puja trisandya oleh Ida Pedanda Gede Made Tembau disiarkan setiap hari di saluran TVRI Bali.

Pembaharuan rekaman juga dilakukan kembali pada tahun 1992.

Lagi-lagi Pedanda Gede Made Tembau dipercaya untuk mengisi suara lantunan Trisanya yang direkam di RRI Denpasar.

Rekaman tersebut pun bertahan hingga saat ini, dan masih diperdengarkan oleh RRI Denpasar

Pada tahun 2015, semua stasiun televisi mulai menayangkan siaran pujatrisandya.

Setiap stasiun televisi pun memiliki rekaman lantunan puja trisandya yang berbeda-beda.

Sehingga, lantuan Puja Trisandya di setiap stasiun televisi berbeda antara satu dan lainnya.

Hal ini pun mendapatkan respon dari masyarakat.

Saat itu surat dari warga membanjiri PHDI Klungkung, yang isinya meminta agar lantunan puja trisandya di televisi diseragamkan.

Hal ini pun ditanggapi oleh Ketua PHDI Provinsi Bali, Gusti Ngurah Sudiana.

Diputuskanlah, kembali dilakukan perekaman lantunan Puja Trisandya untuk keseragaman di setiap saluran televisi swasta dan nasional.

Perekaman pun kembali dilakukan pada tahun 2016 lalu, dan Ida Pedanda Gede Made Tembau yang sudah berusia senja, kembali dipercaya untuk mengisi lantunan suara puja trisandya tersebut.

Rekaman yang terakhir ini bahkan dilakukan langsung di kediaman Pedanda Gede Made Tembau, yakni di Griya Kulon, Desa Aan dengan juga melibatkan Komisi Penyiaran Indonesia.

Ida Pedanda sempat bertanya, mengapa rekaman dilakukan di Gria?

Karena hasilnya pasti kurang bagus, karena tidak ada peredam suara dan alat yang memadai.

Namun karena ada keterbatasan anggaran, sehingga rekaman cukup dilakukan di kediaman dari Ida Pedanda.

Walau demikian, hal itu tetap dijalani oleh Ida Pedanda.

Selama dipercaya melantunkan trisandya, Ida Pedanda Gede Made Tembau yang mediksa tahun 2014 lalu tersebut, mengaku tidak memiliki tips yang mengkhusus untuk membuat alunan berkarakter.

Menurutnya, suara merupakan karunia Sang Hyang Widhi, sehingga setiap orang memiliki karakter lantunan suara yang berbeda-beda.

Namun mempertahankan karakter suara tersebut perlu latihan pernafasasan yang rutin.

Untuk latihan pernafasan, ia mengaku belajar dari maestro Ida Bagus Ngurah yang terkenal sebagai dalang Buduk.

Menurutnya, untuk mendapatkan suara yang pas saat melantunkan Puja Trisadnya sebaiknya dilakukan dengan posisi kepala dan tubuh yang tegap.

Sulinggih karismatik ini mengungkapkan, dirinya terlahir di lingkungan sulinggih.

Sejak kecil dan setiap hari mendengarkan lantunan mantra-mantra dari kakek dan orang tuanya.

Sehingga jddi terbiasa dan sudah memiliki karakter sendiri dari leluhur.

Tapi jika terkait inspirasi, Ida Pedanda sangat terinspirasi dengan lantunan puja trisadnya dari Almahum Ida Pedanda Gede Keniten, dari Griya Jumpung Anyar Dawan.

Semasa hidulnya, beliau belum pernah mendengar lantunan mantra-mantra semerdu dan seindah yang dilantunkan Almahum Ida Pedanda Gede Keniten. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved