Duta Badung Akan Suguhkan Tari Kolosal 'Mekotek' Pada PKB 2019

Pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 yang akan berlangsung Juni 2019 mendatang, duta Kabupaten Badung akan menyuguhkan tari kolosal Mekotek

Duta Badung Akan Suguhkan Tari Kolosal 'Mekotek' Pada PKB 2019
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah warga memanjat tumpukkan kayu yang membentuk formasi menyerupai gunung dalam tradisi mekotek yang digelar saat merayakan Hari Raya Kuningan di Desa Munggu Kabupaten Badung, Sabtu (15/4/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 yang akan berlangsung Juni 2019 mendatang, duta Kabupaten Badung akan menyuguhkan tari kolosal Mekotek.

Garapan kolosal tersebut terinspirasi dari tradisi mekotek yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung.

Makotek merupakan salah satu tradisi tolak bala yang bertujuan untuk memohon keselamatan.

Pada awalnya, Mekotek dilakukan untuk menyambut prajurit Kerajaan Mengwi yang datang dengan membawa kemenangan atas Kerajaan Blambangan di Jawa dan kemudian menjadi tradisi hingga sekarang.

Upacara Mekotek digelar setiap 6 bulan sekali, tepatnya pada hari raya Kuningan.

Sarana makotek memakai tongkat dari kayu pulet yang panjangnya sekitar 2-3,5 meter. Tongkat inilah yang diadu di atas udara membentuk piramida atau kerucut.

Bagi peserta yang punya nyali, naik ke puncak kumpulan tongkat kayu tersebut dan berdiri diatasnya dan memberikan komando semangat bagi kelompoknya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung, Ida Bagus Anom Bhasma mengatakan, untuk menjadikan tradisi ini menjadi kesenian kolosal, pihaknya menggandeng Listibya Badung dan pihak ISI Denpasar.

“Untuk tari kolosal (Makotek) sudah ada dari ISI dan Listibya Badung yang ikut membantu. Untuk sinopsisnya juga sudah dibuatkan,” paparnya sembari mengatakan anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 7 Milliar lebih.

Anom Bhasma menambahkan, ada sekitar 4.862 seniman Badung yang akan tampil dalam PKB tahun ini. Persiapannya saat ini telah mencapai 90 persen.

“Semua pentas kesenian kita ikuti, baik yang diperlombakan atau pun tidak,” kata Anom Bhasma, Selasa (28/5/2019).

Menurutnya, para seniman yang akan tampil sudah diberikan pembinaan.

Termasuk juga duta kesenian gong kebyar baik anak-anak, dewasa dan wanita. Terlebih lagi, gong kebyar sudah tidak dilombakan lagi di tingkat kabupaten.

“Khusus untuk lomba gong kebyar kita ambil dari juara-juara tingkat kabupaten sebelumnya. Karena tidak ada lomba lagi (di tingkat kabupaten, red) kita pakai itu. Terutama untuk gong kebyar wanita dan anak-anaknya,” pungkasnya. (sur)

Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved