Identifikasi 78 Cakep Lontar Berusia 1,5 Abad di Buleleng, Salah Satunya Lontar Sesana

Sebanyak 78 cakep lontar dari berbagai genre yang tersimpan di kediaman keluarga Ketut Putu Astita (71), di Kelurahan Paket Agung, Buleleng

Identifikasi 78 Cakep Lontar Berusia 1,5 Abad di Buleleng, Salah Satunya Lontar Sesana
Tribun Bali/Ratu Ayu
Penyuluh Bahasa Bali mengidentifikasi lontar milik keluarga Ketut Putu Astita, di Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, Selasa (28/5/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sebanyak 78 cakep lontar dari berbagai genre yang tersimpan di kediaman keluarga Ketut Putu Astita (71), di Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, diidentifikasi oleh Penyuluh Bahasa Bali Selasa (28/5/2019).

Dari 78 cakep lontar itu, ditemukan sebuah lontar yang tergolong unik yang masuk dalam kelompok lontar sesana (kewajiban) lengkap dengan terjemahannya.

Koordinator Tim Konservasi Lontar Aliansi Penyuluh Bahasa Bali, Ida Bagus Ari Wijaya mengatakan, sejatinya ada ratusan cakepan lontar yang dimiliki oleh keluarga Putu Astita.

Hanya saja yang berhasil diidentifikasi baru sebanyak 78 cakep.

Bila merujuk sistem katalog kirtya, lontar yang dimiliki oleh keluarga Putu Astita masuk dalam kategori I sampai V.

Adapun kategori I meliputi puja dan mantra, ketegori II lontar sesana, kategori III masuk dalam kategori wariga dan usadha, kategori IV lontar karya sastra berbentuk kakawin, kidung dan geguritan, sementara kategori V berupa babad.

Dari sekian cakepan lontar itu, naskah tertua ditemukan dalam judul Pangawisesan Bhagawan Cintya Widhi yang mengulas tentang perlindungan diri secara niskala. 

Naskah ini, diperkirakan berumur sekitar 149 tahun atau 1,5 abad.

Kata Wijaya, selama melakukan identifikasi lontar di Buleleng, pihaknya baru kali ini menemukan satu lontar yang tergolong unik, berjudul Purwadi Dharma Sesana.

"Di tempat lain belum pernah saya temukan. Karena lontar ini berisi teks dengan bahasa Jawa Kuno dan Aksara Bali serta berisi terjemahannya dalam Bahasa Bali. Pada umumnya yang ada artinya hanya kidung dan geguritan. Ini jenis  sesana, saya tumben temukan yang begini," katanya.

Sementara Putu Astita mengatakan, lontar-lontar itu merupakan warisan leluhurnya. Sejauh ini lontar-lontar tersebut hanya disimpan di sebuah kamar sehingga banyak diselimuti debu.

"Tidak pernah kami buka. Hanya saat hari raya Saraswati dibantenin itu pun hanya beberapa sebagai simbol. Makanya kami sangat bersyukur ada penyuluh Bahasa Bali ini sehingga kami tahu apa isinya," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved