Alasan Slamet Ijinkan Anaknya Jadi Pemburu Logam di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk

Slamet pria yang kini berusia 43 tahun mengaku menjadi anak logam di Pelabuhan Gilimanuk sejak dirinya berusia 8 tahun.

Alasan Slamet Ijinkan Anaknya Jadi Pemburu Logam di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Seorang anak logam lainnya tengah bermain di dermaga MB 2, Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Minggu (9/6/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Slamet pria yang kini berusia 43 tahun mengaku menjadi anak logam di Pelabuhan Gilimanuk sejak dirinya berusia 8 tahun.

Atau sudah selama 35 tahun menjadi anak logam.

Slamet tidak pernah menginginkan anaknya mengikuti jejaknya menjadi anak logam.

Baca: Cerita Para Pemburu Logam di Pelabuhan Gilimanuk, Kucing-kucingan Dengan Petugas

Baca: Puluhan Pedagang Manfaatkan Arus Mudik dan Balik untuk Berjualan Sepanjang Jalan Gilimanuk

Baca: Ribuan Wisatawan ke Banyuwangi, Terbanyak ke Pulau Merah dan Hutan Lord of The Rings

Baca: Selang 15 Menit Setelah Cilacap Diguncang Gempa 5,7 SR, Nusa Dua Diguncang Gempa 5,2 SR

Para anak logam biasa terlihat saat musim liburan sekolah atau pun libur lebaran di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. 

Ya, Anak Logam sebenarnya hanyalah sebuah sebutan bagi mereka pemburu logam yang dilempar oleh para penumpang kapal ke laut. 

"Sebenarnya saya tidak pernah mengijinkan anak-anak mengikuti jejak saya menjadi anak logam mbak. Tapi kalau dilarang malah mereka itu marah. Jadi saya itu terpaksa mengajak mereka ke sini," paparnya.

Keluarga yang tinggal di Banjar Asih Timur, Gilimanuk ini berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk pukul 07.00 Wita hingga pukul 18.00 Wita.

Nur, sapaan akrab istri Slamet juga mengaku tidak mengijikan anak-anaknya untuk menjadi anak logam.

Akibat himpitan ekonomi, ia mengijinkan anak-anaknya ikut mengais rejeki menjadi anak logam.

"Kalau dilarang, mereka malah bilang ketika minta uang jajan gak dikasih sama bapak dan ibu. Bilang kalau gak ngelogam dapat uang dari mana," kata Nur.

"Saya sebenarnya ngenes ngeliat anak-anak begitu. Anak saya yang besar putus sekolah harusnya sekarang sudah kelas 2 SMA. Gak ada biaya buat biaya sekolah mbak. Kami itu orang miskin," paparnya.

Untuk mencari logam, mereka harus bergantian dengan yang anak logam lainnya.

Dalam sehari, jika sedang ramai, pendapatan keluarga kecil pencari logam ini bisa mencapai Rp 200 ribu jika sedang ramai.

Namun, jika sedang sepi hanya mendapat Rp 20 ribu saja per harinya. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved