Waspada! BMKG Rilis Selat Bali Berpotensi Dilanda Gelombang Hingga 6 Meter

Sejumlah wilayah pesisir Indonesia berpotensi gelombang tinggi pada Senin (10/6/2019) hingga Kamis (13/6/2019).

Waspada! BMKG Rilis Selat Bali Berpotensi Dilanda Gelombang Hingga 6 Meter
Tribun Bali/Rizal Fanany
Gelombang pasang menerjang kawasan Pantai Padang Galak, Denpasar, Rabu (25/7/2018). Dampak dari gelombang pasang ini sejumlah warung dan trotoar di kawasan tersebut mengalami kerusakan serta penutupan enyeberangan sanur-nusa penida. BMKG memprediksi tinggi gelombang mencapai 3-7 meter. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sejumlah wilayah pesisir Indonesia berpotensi gelombang tinggi pada Senin (10/6/2019) hingga Kamis (13/6/2019).

Hal ini sesuai rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (10/6/2019).

Peningkatan gelombang tinggi disebabkan oleh adanya pola sirkulasi di Perairan Timur Laut Halmahera.

Pola angin di wilayah utara ekuator umumnya dari timur-tenggara dengan kecepatan 4 - 15 knot.

Sedangkan di wilayah selatan ekuator umumnya dari timur-tenggara dengan kecepatan 4 - 25 knot.

Sementara itu, Kecepatan angin tertinggi terpantau di Perairan P. Enggano hingga selatan Jawa, P. Sawu - P. Rote, Laut Timor, Perairan Sulawesi Tenggara, Laut Banda, Perairan Kep. Sermata - Kep. Tanimbar, Perairan selatan Kep. Kei - Kep. Aru, Laut Arafuru, Perairan Yos Sudarso - Merauke.

Baca: Hari Pertama Masuk Kerja, 4 Kota di Bali Diprediksi Cerah oleh BMKG

Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

"BMKG mendeteksi adanya peningkatan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter yang berpotensi terjadi di sejumlah perairan Indonesia seperti Selat Sumba, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, Perairan Selatan Flores, Perairan Kupang – Rote, Laut Timor selatan NTT, Laut Natuna bagian selatan, Selat Karimata, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Kotabaru, Selat Makassar bagian selatan, Perairan Timur Kep. Selayar, Laut Flores, Perairan Selatan Bau Bau – Wakatobi, Teluk Tolo, Perairan Selatan Kep. Banggai hingga Kep. Sula, Perairan Manui – Kendari, Perairan Selatan P. Buru – Seram, Perairan Kep. Sermata hingga Kep. Tanimbar, Perairan Kep. Kei – Kep. Aru, Laut Banda, Perairan Amamapare, Perairan Barat Yos Sudarso, Perairan Jayapura, dan Samudera Pasifik utara Papua," tulis BMKG dalam rilisnya.

Beberapa wilayah pesisir Indonesia lainnya juga berpotensi diterpa gelombang yang lebih tinggi berkisar antara 2,5 hingga 4 meter.

Wilayah pesisir tersebut di antaranya Perairan Utara Sabang, Perairan Barat Aceh, Perairan P. Simeulue hingga Mentawai, Perairan Bengkulu, Samudera Hindia Barat Aceh hingga Kep. Mentawai, Selat Alas bagian selatan, Perairan Selatan Sumbawa – Sumba – P. Sawu, Samudera Hindia selatan Sumbawa hingga Sumba, serta Laut Arafuru.

Sementara untuk wilayah Perairan Barat Enggano, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Lombok, Selat Bali – Selat Lombok bagian selatan, dan juga Samudera Hindia selatan Jawa hingga Lombok berpotensi dilanda gelombang yang lebih tinggi lagi, berkisar antara 4 hingga 6 meter.

Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran.

Untuk itu, BMKG selalu mengimbau pada masyarakat terutama nelayan yang beraktivitas dengan moda transportasi seperti perahu nelayan dengan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m, kapal tongkang dengan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m, kapal ferry dengan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m, dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar memperhatikan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m) untuk selalu waspada. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved