Bali United

Dosen Ekonomi UNUD Beli 300 Lot Saham Bali United, Gerianta: Dukung Klub Bali agar Maju

Ia memprediksi, prospek saham Bali United cukup baik tahun ini. Karena perusahaan yang sudah go public tentu transparan pengelolaan

Dosen Ekonomi UNUD Beli 300 Lot Saham Bali United, Gerianta: Dukung Klub Bali agar Maju
Tribun Bali/Marianus Seran
Gerianta Wirawan Yasa, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNUD yang juga Mantan Pembantu Dekan III, saat membeli saham Bali United di Denpasar, Senin (10/6/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gerianta Wirawan Yasa, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNUD yang juga Mantan Pembantu Dekan III, tak menunggu lama untuk membuka rekening pembelian saham perdana PT Bali Bintang Sejahtera (Bali United), setelah mendengar penawaran umum
perdana atau Initial Public Offering (IPO) PT Bali Bintang Sejahtera (Bali United), yang dimulai Senin (10/6/2019) hingga Rabu (12/6/2019) di Hotel Inna Bali Heritage.

Ia memprediksi, prospek saham Bali United cukup baik tahun ini.

Karena perusahaan yang sudah go public tentu transparan pengelolaan dibanding perusahaan lain yang tidak go public.

Baca: TRIBUN WIKI: Ini 21 Kantor Dinas di Pemkot Denpasar Lengkap dengan Nama Kepala Dinas

Baca: Hasil Dari IPO Saham Bali United Akan Digunakan Untuk Benahi Stadion Dipta, Ini Kata Yabes Tanuri

Baca: GPS : Bali United IPO, Akademi Sepakbola Harus Segera Dibangun

Baca: Sidak Kos-kosan, Tim Yustisi Gabungan Pemkab Klungkung Temukan Pelanggaran Ini

"Menurut saya pasti maju atau Progres. Karena ini klub pertama go public dan pasti manajemen jadi profesional, kenapa kita gak jadi pemilik? Karena mereka sekarang jadi terbuka," tegas Gerianta Wirawan Yasa, kepada Tribun Bali.

Dia mengatakan, secara aturan undang undang pasar modal mereka harus open (transparan).

"Saya cuma beli sedikit 300 lot (30000 lembar saham Bali United) karena saya dosen kan. Maunya 1000 lot tapi belum cukup uang," katanya kepada Tribun Bali sembari tertawa.

Dia menjelaskan, telah mengajarkan mahasiswa untuk investasi. Ini klub pertama di Indonesia yang go public.

"Ini klub domisili Bali, saya orang Bali. Mestinya jadi pemilik. Walaupun, 0,001 persen. Tak ada masalah kan, Paling tidak, klub Bali saya dukung agar maju," tegasnya.

Dia menambahkan, klub ini ikon Bali,. Kenapa masyarakat Bali tidak jadi pemilik.

"Kita miliki lewat saham, agar Kita tidak hanya jadi pendukung. Tidak hanya beli karcis atau tiket nonton tapi kita jadi pemilik. Kan lebih keren.
Kalau perusahaan untung kemudian kita dapat deviden, kan kita untung. Apabila kita, pemegang saham tentu RUPS kita boleh hadir, "jelasnya. (*)

Penulis: Marianus Seran
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved