Dagang Canang dengan Cara Memaksa di Jalur Suter Terjadi Sejak 12 Tahun, Perbekel Ini Pernah Dicegat

Cara berdagang dengan menyetop kendaraan di jalan raya jalur Penelokan, Kintamani menuju Karangasem ternyata sudah ada sejak lama.

Dagang Canang dengan Cara Memaksa di Jalur Suter Terjadi Sejak 12 Tahun, Perbekel Ini Pernah Dicegat
Kolase Tribun Bali/M Fredey Mercury/dok Satpol PP Bangli
Ni Nyoman Widianingsih (jaket oranye) mendapat pembinaan dari Polsek Kintamani bersama Satpol PP Bangli (kiri). Perbekel Desa Suter, I Wayan Nyepek (kanan) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Cara berdagang dengan menyetop kendaraan di jalan raya jalur Penelokan, Kintamani menuju Karangasem ternyata sudah ada sejak lama.

Upaya pembinaan pun, sejatinya juga sudah dilakukan sebelum akhirnya viral.

Menurut Perbekel Desa Suter, I Wayan Nyepek, cara berjualan dengan menghentikan kendaraan sudah dilakukan sejak 12 tahun silam.

Barang yang dijual sebelumnya hanya berupa canang sari.

Namun kini diakui bertambah dengan beragam pernak-pernik. Meski demikian, cara yang dilakukan para pedagang sebelumnya, dinilai lebih beretika.

Nyepek mengatakan, para pedagang canang itu berjualan hampir tiap hari. Ia tidak menampik jika dulu juga sempat dihentikan untuk membeli canang.

"Sampai sekarang juga masih dihentikan. Dulu harga canangnya Rp 5 ribu, dan saya masih mau mengeluarkan uang untuk membeli. Namun sekarang kalau disetop hanya membunyikan klakson saja. Karena saya sudah tahu bahwa mereka ingin jual canang," ucapnya Sabtu (15/6).

"Disamping itu kalau dulu disetop, tapi mereka (pedagang) berdiri pinggir jalan. Kalau sekarang nyetop-nyetop, tapi tidak beretika. Kadang-kadang di tengah jalan," bebernya.

Ni Nyoman Widianingsih (jaket oranye) mendapat pembinaan dari Polsek Kintamani bersama Satpol PP Bangli. Jumat (14/6/2019). Widianingsih berjanji tak menjual canang lagi di Hutan Suter.
Ni Nyoman Widianingsih (jaket oranye) mendapat pembinaan dari Polsek Kintamani bersama Satpol PP Bangli. Jumat (14/6/2019). Widianingsih berjanji tak menjual canang lagi di Hutan Suter. (Tribun Bali/Fredey Mercury)

Lanjut Nyepek, sejatinya yang menjadi persoalan bukan karena harga canang yang dijual seharga Rp 10 ribu.

Menurutnya, titik persoalan lebih kepada orang yang dipaksa membeli udeng maupun kamen, hingga mengeluarkan ratusan ribu.

Halaman
1234
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved