Liputan Khusus

Cerita Kelam dari Balik Lapas di Bali, Penjara Tak Bikin Jera, Masuk Kucing Keluar Bisa Jadi Macan

Lembaga Permasyarakatan (Lapas) sejatinya dibuat untuk memperbaiki orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

Cerita Kelam dari Balik Lapas di Bali, Penjara Tak Bikin Jera, Masuk Kucing Keluar Bisa Jadi Macan
Nova
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lembaga Permasyarakatan (Lapas) sejatinya dibuat untuk memperbaiki orang-orang yang bermasalah dengan hukum.

Dengan dipenjara, diharapkan para pelaku tindak pidana mendapat efek jera dan memperbaiki hidupnya, kemudian hidup normal kembali di masyarakat setelah selesai masa hukumannya.

Namun, sejumlah narapidana justru jadi lebih parah setelah keluar penjara. Bahkan, ada yang sengaja ingin masuk penjara lagi karena dianggapnya “lebih enak” hidup di dalam lapas.

Demikian antara lain yang terungkap dalam diskusi rutin `Suka Duka di Tana Bali` yang bertajuk Penjara Tak Bikin Jera yang digelar di Taman Baca Kesiman, Denpasar, awal bulan ini.

Menjadi salah-satu narasumber diskusi, pria penuh tato di tubuhnya itu berbicara sambil sesekali meneteskan air mata.

Ia teringat masa-masa ketika dirinya menjadi pecandu narkoba kelas berat hingga pernah mendekam di Lapas Kelas II A Denpasar (Kerobokan) berulangkali dari tahun 1996 sampai tahun 2013.

Pria yang akhirnya tobat setelah lima kali masuk penjara ini mengungkap betapa saat itu kondisi Lapas Kerobokan demikian parah.

Bagi pria 48 tahun itu, Lapas Kerobokan di masa itu seakan-akan seperti “negara kecil dengan hukum rimba”.

Semua yang ada di luar penjara, seperti seks, permainan bola adil, togel, biliar, tempat fitness, babi guling, hingga semacam klub malam pun ada di sana. Siapa yang kuat dan berani, dialah yang berkuasa.

“Saya pernah punya pengalaman jadi ketua blok, blok narkoba. Memimpin dua ratus sampai tiga ratus orang, dan mereka orang-orang bermasalah semua. Jadi ketua blok harus berani. Senjata kami ada juga. Mau senjata apa, ada. Mau tombak, celurit, kami punya waktu itu,” ungkap si mantan napi itu dalam acara diskusi bulanan yang dimotori oleh Bale Bengong dan Taman Baca Kesiman itu.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved