Jamur Akar Putih Menjadi Momok Petani di Buleleng, 4.306 Hektar Lahan Cengkih Rusak

Tercatat seluas 4.306 hektar lahan cengkih di sembilan kecamatan di Buleleng mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat jamur akar putih

Jamur Akar Putih Menjadi Momok Petani di Buleleng, 4.306 Hektar Lahan Cengkih Rusak
Tribun Bali/Ratu Ayu
Perbekel Mengening, Angga Wirayuda menunjukkan salah satu pohon cengkih yang terserang jamur akar putih. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Serangan jamur akar putih (JAP) masih menjadi momok mengerikan bagi petani cengkih di Buleleng.

Pada tahun ini, tercatat seluas 4.306 hektar lahan cengkih yang tersebar di sembilan kecamatan di Buleleng, mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat terserang JAP.

Dari data yang dihimpun di Dinas Pertanian Buleleng, jumlah lahan cengkih yang ada di Bumi Panji Sakti seluas 8.091 hektar.

JAP pun dilaporkan telah merusak sebagian lahan tersebut hingga 53.22 persen.

Dengan rincian seluas 2.589 hektar mengalami kerusakan ringan, dan 1.717 hektar mengalami kerusakan berat.

Plt Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta ditemui belum lama ini mengklaim, setiap tahun pihaknya sudah memprogramkan penanganan JAP dengan memberikan bantuan bibit trekoderma serta pupuk organik kepada kelompok-kelompok petani.

Tahun ini, sebut Sumiarta, bantuan itu diberikan di kecamatan Tejakula, Sukasada, Sawan, Busungbiu, Banjar dan Seririt, untuk luas lahan 300 hektar.

"Trekoderma itu semacam jamur juga, yang memakan JAP ini. Sentra-sentra kami untuk menangani JAP ini ada di Kubutambahan dan Banjar," katanya.

Dengan bantuan bibit trekoderma apakah terjadi penurunan serangan JAP? 

"Penurunan sih kami belum bisa mendata. Karena kegiatan ini spot per spot. Yang jelas dari kegiatan  pemberian trekoderma boleh dikata ada lah penurunan yang signifikan, dibeberapa denplot yang sudah dilaksanakan. Kerugian juga yang jelas tergantung hasil produksi. Produksi itu dilakukan dua tahun kedepan, sehingga belum bisa didata," jawabnya.

Sebelumnya serangan JAP juga meresahkan petani cengkih yang ada di Desa Mengening, Kecamatan Kubutamban, Buleleng. Ratusan pohon cengkih mati akibat terserang jamur tersebut.

Perbekel Mengening, Angga Wirayuda menyebutkan, beberapa petani di desanya mulai putus asa, sebab obat-obat yang digunakan untuk membasmi jamur tak sepenuhnya ampuh.

Produksi lahan pun turun drastis. Biasanya per hektar lahan bisa menghasilkan tiga ton cengkih basah per tahunnya, kini turun menjadi 500 kilogram per hektar. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved