Tradisi Maling-malingan Sebagai Efek Jera, Serangkaian Usaba Sambah Desa Tenganan Pegringsingan

Krama Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis mengelar tradisi maling-malingan rangkaian usaba sambah

Tradisi Maling-malingan Sebagai Efek Jera, Serangkaian Usaba Sambah Desa Tenganan Pegringsingan
Tribun Bali/Saiful Rohim
Krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, menggelar tradisi maling-malingan, Senin (17/6/2019). Truna yang berperan sebagai pencuri diarak keliling Desa Tenganan Pegringsingan. Tradisi Maling-malingan Sebagai Efek Jera, Serangkaian Usaba Sambah Desa Tenganan Pegringsingan 

Seperti kepala dan kaki diikat dengan kelaras (daun pisang) berisi ikan, serta badan dicoret.

Klian 2 Adat Tenganan Pegringsingan, Wayan Sudarsana menjelaskan, pencuri harus ditangkap sehingga masyarakat sekitar tidak dihantui rasa ketakutan dan khawatir.

Diungkapkannya, kebiasaan ini sudah dilakukan nenek moyang sebelumnya, dan dilaksanakan secara rutin.

"Krama yang berperan sebagai pencuri akan disanksi di lokasi oleh warga. Sanksi sesuai awig awig (aturan) di desa. Wajahnya dicoret kapur serta diberikan daun kelaras," ungkap Sudarsana, kaki, tangan, dan leher diberi gelang daging babi.

Setelah dicoret dan diberikan daging babi, krama yang berperan sebagai pencuri diarak keliling Desa Tenganan Pegringsingan hingga beberapa kali.

Baca: Tersangka WNA Rusia Perampokan Money Changer Dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Denpasar

Baca: Kabar Terkini Stefano Lilipaly Bali United Seusai Cedera, Saya Yakin Tentu Always Strong

Tujuannya agar maling merasa malu ke warga, dan tidak mengulangi perbuatan yang dilarang desa.

Ditambahkan, tradisi maling-malingan adalah simbol efek jera bagi warga.

Harapannya, masyarakat takut melakukan perilaku negatif, apalagi mencuri.

Para pencuri diarak keliling desa adat merupakan sanksi sosial sesuai peraturan berlaku.

Melalui tradisi maling-malingan warga di Tenganan Pegringsingan ketakutan melakukan perbuatan jahat, seperti mencuri.

Dikatakan, hingga hari ini belum pernah dijumpai kasus pencurian di sekitar Tenganan Pegringsingan, dan warga hidup nyaman dan aman.

Setelah tradisi maling-malingan selesai, warga berkumpul di sekitar Bale Petemu Klod.

Mereka menggelar upacara megibung.

Makna megibung untuk mempertahankan dan memperat solidaritas antara masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan.(*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved