Kisah Dadong Puspa Penderita Gondok Penghuni Gubuk Reot, Sering Sesak dan Tinggal Sebatang Kara

Penyakit yang dideritanya sejak masih berusia 20 tahun itu semakin menggerogoti tubuhnya, bahkan membuat nenek malang tersebut sulit untuk bicara.

Kisah Dadong Puspa Penderita Gondok Penghuni Gubuk Reot, Sering Sesak dan Tinggal Sebatang Kara
TRIBUN BALI/RATU AYU DESIANI
Kisah memilukan dialami oleh Dadong Nyoman Puspa (80). Wanita asal Banjar Pugpug, Lingkungan Sangket, Kelurahan Sukasada, Buleleng ini hidup dibawah garis kemiskinan. Sehari-hari, ia tidur disebuah gubuk, tanpa beralaskan kasur. Penderitaan itu pun harus ia rasakan selama berpuluh-puluh tahun. 

Kisah Dadong Puspa Penderita Gondok Penghuni Gubuk Reot, Sering Sesak dan Tinggal Sebatang Kara

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Kisah memilukan dialami oleh Dadong Nyoman Puspa (80). Wanita asal Banjar Pugpug, Lingkungan Sangket, Kelurahan Sukasada, Buleleng ini hidup dibawah garis kemiskinan.

Sehari-hari, ia tidur disebuah gubuk, tanpa beralaskan kasur.

Penderitaan itu pun harus ia rasakan selama berpuluh-puluh tahun.

Selain tidak punya tempat tinggal yang layak, Dadong Puspa juga menderita penyakit gondok.

Ukurannya hingga dua kepalan tangan orang dewasa.

Baca: Narapidana Kasus Curanmor di Jembrana Makan Kotoran Sendiri di Rutan, Ternyata Disuruh Dua Sosok Ini

Baca: Kabupaten Bangli Usulkan Hampir 3 Ribu Formasi CPNS dan PPPK, Ini Rincian Formasinya

Baca: Mayoritas Pelanggar Tak Pakai Helm, Polisi Keluarkan 15 Bukti Surat Tilang

Penyakit yang dideritanya sejak masih berusia 20 tahun itu semakin menggerogoti tubuhnya, bahkan membuat nenek malang tersebut sulit untuk bicara.

Ditemui belum lama ini di kediamannya, Dadong Puspa mengaku sejatinya ia memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diserahkan pihak Dinas Sosial Buleleng.

Namun Dadong Puspa enggan memeriksakan penyakitnya itu ke dokter, dan lebih memilih mengonsumsi obat-obatan tradisional seperti jamu.

Dadong Puspa telah lama bercerai dengan suaminya.

Perceraian itu terjadi saat anak pertamanya yang sejatinya kembar, meninggal dunia saat masih berada di dalam perut.

Sang suami lantas pergi meninggalkan wanita malang tersebut.

"Selama ditinggal suami, berjuang sendiri. Sempat bikin keranjang dan bedeg, dijual di sekitar kota. Sekarang sudah tua sering sesak nafas, jadi diam saja di gubuk," katanya lirih. (*)

Berita selanjutnya bisa dibaca di Harian Tribun Bali edisi Kamis, 20 Juni 2019.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved