Penghasilan Capai Rp 300 Ribu Sehari, Warga Dari Karangasem Pilih Jadi Gepeng & Tinggalkan Pekerjaan

Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda, yakni sembilan orang di Pasar Umum Gianyar dan 13 orang di kawasan pariwisata Ubud.

Penghasilan Capai Rp 300 Ribu Sehari, Warga Dari Karangasem Pilih Jadi Gepeng & Tinggalkan Pekerjaan
Tribun Bali / I Wayan Eri Gunarta
Gelandangan dan pengemis (Gepeng) asal Karangasem diamankan di Kantor Dinas Satpol PP Gianyar, Jumat (21/6/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sidak gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Giayar sudah menjadi agenda mingguan Dinas Satpol PP Gianyar, Bali.

Namun keberadaannya tak pernah habis, dan semuanya masih berasal dari Karangasem.

Satpol PP Gianyar menilai, kondisi ini tak akan pernah berubah, jika Pemkab Karangsem belum sunggung-sungguh membina masyarakatnya.

Pantauan Tribun Bali di kantor Dinas Satpol PP Gianyar, Jumat (21/6/2019), ada sebanyak 22 orang gepeng diamankan, terdiri dari sembilan orang dewasa dan 13 orang masih di bawah umur, bahkan ada yang masih delapan bulan.

Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda, yakni sembilan orang di Pasar Umum Gianyar dan 13 orang di kawasan pariwisata Ubud.

Sekdis Satpol PP Gianyar, I Ketut Adi Sandiasa mengatakan, pihaknya merasa malu terhadap masyarakat Gianyar.

Sebab, sidak gepeng tidak pernah berakhir meskipun rutin dilakukan setiap minggu.

Permasalahan ini terjadi, dikarenakan setelah para gepeng ini ditangkap dan dipulangkan ke kampungnya di Karangasem, tak berselang lama mereka kembali lagi ke Gianyar.

“Kami berharap, kabupaten asalnya (Karangasem) juga harus bertanggung jawab atas kondisi ini. Kami berharap, Pemkab Karangasem serius melakukan pembinaan pada masyarakatnya,” ujarnya.

Sandiasa mengungkapkan, para gepeng yang tertangkap ini tidak hanya wajah lama.

Namun juga ada beberapa wajah baru, yang datang menggepeng ke Gianyar karena mendapat kabar dari mulut ke mulut, bahwa pendapatan sebagai gepeng di Kabupaten Gianyar relatif besar.

“Rata-rata gepeng, di Pasar Umum Gianyar per hari dapat Rp 300 ribu. Ini baru di pasar umum, beda lagi dengan di Ubud. Nah inilah yang menyebabkan adanya wajah-wajah baru datang ke sini,” tandasnya.

Gepeng asal Pedahan, Karangasem, Ni Ketut Kerti (35) membenarkan hal itu.

Ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh harian di Karangasem, karena sering mendengar penghasilan menggepeng di Gianyar relatif besar. Namun nyatanya seperti itu.

“Di Karangasem saya kerja jadi buruh harian. Dengan gepeng dapat uang banyak, saya jadi tertarik. Tapi nyatanya tidak seperti itu, saya rata-rata perhari kadang dapat Rp 10 ribu paling banyak Rp 30 ribu. Tidurnya di emperan toko, anak-anak sampai sakit karena kedinginan,” ujar perempuan yang membawa dua anak tersebut.(*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved