Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Berani Anda Puasa Medsos Sebulan?

Teknologi tidaklah jahat, bahkan membantu manusia dalam banyak hal. Hanya saja, kita memang perlu menemukan keseimbangan. Dan karena itu, dibutuhkan

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ilustrasi aplikasi media sosial di handphone. Berani Anda Puasa Medsos Sebulan? 

Kunci untuk hidup dengan baik (living well) di tengah dunia dengan teknologi tinggi adalah justru jangan membuang banyak waktu dengan menggunakan teknologi. (Cal Newport)

Intinya, menurut Cal Newport, jika Anda ingin hidup lebih bahagia di tengah lalu lintas komunikasi digital yang kian gaduh saat ini, salah-satu cara adalah mulailah kurangi main hape dan perbanyak silaturahmi (bahasa gaulnya: kopi darat/kopdar).

Tahun lalu seorang profesor dari Georgetown University, Cal Newport, berhasil meyakinkan 1600 orang untuk mengikuti tantangan darinya, yang disebutnya bisa benar-benar mengubah hidup mereka.
Apa tantangan itu?

Untuk kepentingan risetnya, Cal meminta 1600 orang itu untuk “puasa” selama 30 hari dari menggunakan piranti teknologi, terutama ponsel. Tentu saja tantangan itu disodorkan asalkan “puasa pantengin ponsel” itu tak membuat dipecat dari pekerjaan, bercerai atau mengakibatkan orang yang dicintai jadi murka.

Singkat cerita, orang-orang itu diminta untuk mengucapkan selamat tinggal terutama pada Facebook, Instagram dan Twitter selama sebulan.

Namun, untuk hal-hal yang sangat primer dan keharusan, mereka masih boleh menggunakan ponsel tetapi disertai batasan-batasan. Aturannya antara lain begini: boleh cek email tapi hanya di jam-jam yang ditentukan; pun boleh lihat layar ponsel namun hanya terbatas pada jam-jam tertentu.

Apa yang terjadi kemudian?

Ternyata, tak seorangpun yang mengikuti tantangan Cal itu sampai –katakanlah-- jadi edan gara-gara “puasa pantengin ponsel” itu.

Demikian sebagaimana ditulis oleh Eric Barker dalam artikelnya This Is The Most Powerful Way to Make Your Life Fantastic.
Memang, tulis Eric, awalnya transisi itu berat bagi kebanyakan dari mereka yang mengikuti tantangan. Tapi setelah itu, bagi sebagian terbesar, batasan-batasan tersebut justru akhirnya benar-benar mengubah kehidupan mereka jadi lebih baik.

Mereka jadi lebih happy, dan lebih produktif. Mereka juga lebih bisa menghabiskan waktu berkualitas (quality time) bersama anak-anak atau keluarganya.

Seorang ayah (yang mengikuti tantangan itu) mengungkapkan, awalnya memang seperti aneh dirinya menjadi satu-satunya orangtua yang tidak pegang ponsel di tengah para orangtua lain yang asyik dengan ponselnya masing-masing, saat menemani anaknya bersama kawan-kawannya bermain di taman.

Tapi kemudian ia menjadi terbiasa dan bahkan nyaman. Sindrom “gelisah karena ponsel tertinggal” bisa diatasinya.

Riset menunjukkan, 70 persen kebahagiaan berasal dari relationship atau hubungan.

Berkebalikan dari keyakinan umum bahwa kebahagiaan sulit dijelaskan atau kebahagiaan itu tergantung pada kepemilikan harta berlimpah, para peneliti telah berhasil mengidentifikasi faktor-faktor apa yang berpengaruh pada kebahagiaan hidup.
Faktor-faktornya antara lain jumlah teman, kedekatan pertemanannya, kedekatan dalam keluarga, dan kedekatan hubungan dengan rekan kerja serta tetangga. Semua faktor itu mempengaruhi 70 persen kebahagiaan seseorang (personal happiness)”. --Murray & Peacock 1996.

Lantas apa faktor yang sesungguhnya bisa dikendalikan, namun dalam kenyataan faktor itu justru merampas waktu berkualitas dalam relationship anda?

Menurut temuan, jawabannya adalah: ponsel, internet, dan pertemanan semu (pseudo relationship) di medsos !

Barangkali sudah ratusan kali Anda baca tips & tricks tentang bagaimana mengurangi ketagihan ngecek ponsel. Namun, pada umumnya, yang disodorkan hanya soal cara. Tidak pernah menawarkan filosofi atau substansinya. Karena itu, ketika nada notifikasi terdengar, godaan untuk nyamperin ponsel dan memantenginya timbul kembali.

Teknologi tidaklah jahat, bahkan membantu manusia dalam banyak hal. Hanya saja, kita memang perlu menemukan keseimbangan. Dan karena itu, dibutuhkan lebih dari sekadar tips & tricks, melainkan sebuah fiolosofi, yakni filosofi mengapa harus memiliki keseimbangan.

Dalam istilah Eric Barker (yang juga penulis buku best seller Barking Up The Wrong Tree) dibutuhkan semacam etos untuk bisa mendorong niat “puasa ponsel”. Nah, Cal Newport menyebutnya sebagai digital minimalism –dan kosa kata itu pula yang jadi judul buku terbarunya: Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World.
(Minimalisme Digital: Memilih Kehidupan Yang Fokus dalam Dunia Yang Berisik)

Dalam bukunya itu, Cal tidak bilang agar “buang saja ponselmu” untuk mengendalikan “berponsel ria” yang sudah kebablasan. Itu jelas musykil. Apalagi dia adalah profesor sains komputer di Georgetown University dan meraih gelar doktor dalam bidang itu dari perguruan tinggi teknologi terkemuka dunia, yaitu Massachusets Institute of Technology (MIT).

Cal menjelaskan dalam bukunya bagaimana kita bisa mendapatkan (manfaat) terbaik dari teknologi, sehingga teknologi tidak justru merampas yang terbaik dari diri kita.

Tak seperti buku-buku tips & tricks tentang bagaimana mengatasi dampak negatif teknologi yang sebagian besar berisi “daftar caci maki terhadap kemudaratan pelototi ponsel”, Cal justru menulis sebaliknya.

Dia menawarkan apa yang disebutnya sebagai “rencana pertempuran” (battle plan), ya semacam program “diet ponsel” yang terstruktur dan sistematis guna membangun kehidupan lebih baik di tengah derasnya kemunculan teknologi baru. Terutama teknologi yang berbasis digital.

Ada 5 poin “rencana pertempuran” yang diresepkan Cal Newport dalam bukunya itu.

Apa saja, tunggu di tulisan selanjutnya.

Tapi, saya bocorkan salah-satunya: kurang update (kudet) itu ternyata hanya mitos !

Bagaimana pendapat(an) Anda?

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
Live
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
VS
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
VS
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved