Pancaroba Kerap Picu Penyakit Unggas, dari Snot hingga Flu Burung

Perubahan musim yang sedang berlangsung menyebabkan penyakit bagi hewan ternak

Pancaroba Kerap Picu Penyakit Unggas, dari Snot hingga Flu Burung
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ilustrasi - Salah satu peternakan ayam di wilayah Kecamatan Tembuku. Pancaroba Kerap Picu Penyakit Unggas, dari Snot hingga Flu Burung 

Pancaroba Kerap Picu Penyakit Unggas, dari Snot hingga Flu Burung

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Perubahan musim yang sedang berlangsung menyebabkan penyakit bagi hewan ternak.

Potensi tersebut lantaran ketahanan tubuh ternak cenderung menurun akibat perubahan musim. Meski demikian faktor utamanya adalah virus.

“Seperti penyakit ND (Newcastle Disease), itu karena virus. Namun ada faktor pre-disposisi atau faktor yang mempermudah bibit penyakit yakni pancaroba. Di samping itu sanitasi kandang juga menjadi pengaruh,” ujar Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Bangli, Sri Rahayu, Jumat (21/6/2019).

Tak hanya ND, faktor perubahan musim juga berpotensi terhadap penyebaran penyakit lainnya. Seperti snot hingga flu burung.

Baca: Tahun 2019 Ini SMP Madya Widya Dharma Suter Optimis Buka Tiga Kelas

Baca: Denpasar Kekurangan 1.400 Tenaga Guru SD/SMP

Meski ada perbedaan mencolok terhadap ketiga penyakit itu, namun secara klinis diakui cirinya hampir sama. Seperti tidak mau makan, serangan terhadap gangguan pernapasan, hingga kematian.

“Ketiga penyakit itu punya ciri-ciri yang sama. Namun pada kematian untuk ND maupun snot cenderung perlahan dengan angka kematian sedikit. Berbeda dengan flu burung, kematiannya cenderung mendadak tanpa (diawali) sakit, dengan jumlah yang banyak,” jelasnya.

Perbedaan lain yakni pada gejala. Sri Rahayu mengatakan, untuk DN biasanya diawali dengan tortikolis atau leher terpelintir. Sedangkan snot lebih sering terjadi pada ayam dengan lebih dari tujuh hari.

Terhadap sejumlah potensi itu, Sri Rahayu tidak bisa memberikan data jumlahnya, lantaran belum ada laporan yang diterima pihaknya.

Baca: Kabar Terbaru Pasutri Slamet Dan Nenek Rohaya, Kini Suami Bekerja Banting Tulang Demi Beli Beras

Baca: SMAN 3 Denpasar Ciptakan Genteng dari Karang & Biji Jagung, Tahan Panas hingga 400 Derajat Celcius

Terlebih kecenderungan di kalangan peternak kecil, jika hewan peliharaannya mati dengan jumlah sedikit, maka hanya dianggap penyakit sepele.

“Disamping itu untuk vaksin juga sudah banyak yang dijual. Berbeda dengan flu burung, kami punya respons cepat untuk mengecek langsung ke lapangan, mengingat virus ini juga bisa menular ke manusia,” ungkapnya.

Untuk menghindari penyakit, Sri Rahayu menyarankan agar ternak mendapat vaksinasi rutin. Menurut dia cara ini mampu menghindari penyakit ternak hingga 95 persen.

“Disamping itu juga perlu ruang terpisah bagi ternak yang baru dibeli. Tujuannya untuk mengantisipasi apakah ternak itu memiliki penyakit bawaan atau tidak,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved