Ketut Darmada Kreasikan Kue Laklak dan Cendol Berbahan Dasar Kelor, Begini Kisahnya

Tinggal di daerah yang banyak ditumbuhi daun kelor, membuat Ketut Darmada (42) berinovasi menciptakan kue laklak dan cendol berbahan daun kelor

Ketut Darmada Kreasikan Kue Laklak dan Cendol Berbahan Dasar Kelor, Begini Kisahnya
Tribun Bali/Ratu Ayu
Kue Laklak dari bahan daun kelor, buatan Ketut Darmada, warga Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar Buleleng, Minggu (23/6/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tinggal di daerah yang banyak ditumbuhi daun kelor, membuat Ketut Darmada (42) berinovasi menciptakan berbagai macam panganan, berbahan dasar tumbuhan kaya akan vitamin tersebut.

Melalui ide kreatifnya, daun kelor ia campur ke dalam adonan kue laklak, serta cendol.

Ditemui Minggu (23/6/2019), pria asal Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar Buleleng  itu menuturkan, bisnis panganan berbahan dasar kelor ini baru ia geluti sejak sebulan yang lalu.

Ketut Darmada, warga Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar Buleleng, saat membuat kue laklak dari bahan daun kelor, Minggu (23/6/2019).
Ketut Darmada, warga Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik, Kecamatan Banjar Buleleng, saat membuat kue laklak dari bahan daun kelor, Minggu (23/6/2019). (Tribun Bali/Ratu Ayu)

Ide itu muncul saat dirinya melihat selama ini daun kelor hanya diolah sebagai sayur oleh masyarakat.

Padahal khasiat yang terkandung di dalam daun kelor sangat baik untuk tubuh, seperti mengandung vitamin C, vitamin A, dan kalsium.

Untuk itu, Darmada pun mencoba mengolah daun kelor tidak hanya sebagai sayur, namun juga dapat dinikmati sebagai teman ngopi.

Daun kelor yang sudah dibersihkan dari tangkainya, ia cuci lalu disimpan selama 14 hari di dalam suhu ruangan.

Selanjutnya, daun kelor yang sudah kering ia hancurkan hingga menjadi tepung, untuk kemudian dicampurkan ke dalam adonan kue laklak, makanan tradisional khas Pulau dewata.

"Komposisi adonannya hampir sama dengan membuat kue laklak pada umumnya. Begitu juga dengan cendol. Hanya adonanya saya tambahkan beberapa gram tepung daun kelor. Sehingga aroma dan rasanya menjadi khas," jelasnya.

Hasil olahannya itu pun dijual oleh Darmada disebuah warung sederhana miliknya, yang diberi nama Angkringan Moringa, terletak di Banjar Dinas Bajangan.

Seporsi kue laklak dengan isian enam potong,  ia jual dengan harga Rp 5000. Pun dengan es cendolnya, ia jual dengan harga Rp 5000 per gelasnya.

"Peminatnya lumayan. Sehari itu mengabiskan dua kilo adonan," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved