Bali Bakal Jadi Etape Terakhir Indonesia Climbing Festival 2019, Tebing Songan Disebut Eksotis

Dan Tebing Songan, Kintamani, Bangli, Bali pun akan menjadi tempat etape terakhir atau keempat dari ICF 2019 ini.

Bali Bakal Jadi Etape Terakhir Indonesia Climbing Festival 2019, Tebing Songan Disebut Eksotis
Tribun Bali/Putu Dewi Adi Damayanthi
Ketua Panitia ICF 2019, Wiwik Yuniasih 

TRIBUN-BALI.COM,DENPASAR- Indonesia Climbing Festival (ICF) 2019 telah berlangsung sejak tanggal 8 Juni 2019.

Festival panjat tebing tersebut merupakan kegiatan yang dibuat oleh  Yayasan Vertical Rope yang bekerja sama dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) pusat.

Ada tiga provinsi yang telah disinggahi oleh ICF 2019 yaitu etape pertama di Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat tanggal  8-9 Juni 2019, etape kedua di Gunung Api Purba Nglanggeran, Yogyakarta tanggal 14-15 Juni 2019, etape ketiga yaitu Tebing Sepikul Trenggalek, Jawa Timur tanggal 21-22 Juni 2019 kemarin.

Dan Tebing Songan, Kintamani, Bangli, Bali pun akan menjadi tempat etape terakhir atau keempat dari ICF 2019 ini.

Festival panjat tebing yang akan berlangsung di Bali tersebut akan digelar tanggal 28-29 Juni 2019.

Ketua Panitia ICF 2019, Wiwik Yuniasih mengatakan dipilihnya Tebing Songan sebagai salah satu tempat diadakannya ICF 2019 karena tebing tersebut unik.

“Tebing Songan unik dan tebingnya eksotis,” ucapnya pada Tribun Bali di Jalan Tukad Musi, Denpasar, Bali, Senin (24/6/2019).

ICF 2019 pun terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mencoba dan memiliki hobi memanjat.

Selain itu kegiatan ini juga tidak ada batasan umurnya.

Pendaftaran pun masih dibuka hingga hari festival tersebut berlangsung dan para peserta yang ingin mendaftar bisa langsung datang ke lokasi ICF 2019.

Wiwik  menjelaskan bahwa ICF 2019 merupakan sebuah kegiatan yang dibuat untuk memperkenalkan olahraga panjat tebing lebih luas lagi, selain itu festival tersebut juga dipadukan dengan culture atau budaya daerah setempat.

Ia berharap dari ICF 2019 ini banyak anak muda yang mencintai olahraga panjat tebing dan lain sebagainya.

 “Harapannya ya semakin banyak anak muda yang mencintai dunia panjat tebing. Kedua, tujuan kita menjadikan tebing-tebing ini jadi destinasi pariwisata. Ketiga, kita bisa bantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomian. Kalau destinasi itu sudah tercipta dan rame, otomatis perekonomian masyarakat juga akan terangkat, kenapa saya selalu menghubungkan dengan culture masing-masing daerah karena itu memang tujuan kita, memanjat dengan budaya kearifan lokal itu keren banget,” ucapnya. (*)

Penulis: Putu Dewi Adi Damayanthi
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved