Jaga Populasi Burung Punglor, Desa Munduk Temu Atur Melalui Pararem

Jaga populasi burung Punglor di Desa Munduk Temu, ada pararem desa adat setempat yang melarang mengambil peranakan burung Punglor

Jaga Populasi Burung Punglor, Desa Munduk Temu Atur Melalui Pararem
Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Hingga saat ini, masyarakat Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan masih tetap melestarikan keberadaan burung Punglor ini dengan cara tidak menangkap indukannya, melainkan hanya mengambil anakannya kemudian dijual ke pengepul. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Sebelum terkenal dengan Kopi Luaknya, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan, lebih dulu terkenal dengan adanya burung Anis Merah atau dikenal luas dengan nama burung Punglor.

Burung Punglor tersebut bebas beterbangan di alam, menjadi tambang emasnya masyarakat Munduk Temu yang sebagian besar bekerja sebagai petani.

Peranakan burung berwarna cerah ini bisa diambil dari induknya untuk dijual ke seorang pengepul di daerah setempat.

Meskipun bisa ditangkap, namun ada pararem (aturan kesepakatan) desa adat setempat yang melarang mengambil peranakan burung Punglor dan burung lainnya dalam waktu lima tahun sekali atau pada bulan Maret-Mei.

Pararem tersebut  bertujuan untuk membiarkan atau menambah populasi Punglor hidup di alam bebas secara alami.

Seperti yang diceritakan Kelian Dinas Banjar Kebon Jero Kauh, I Ketut Agus Saputra, yang juga penghobi burung sejak kecil.

Agus menuturkan, burung berwarna cantik dan memiliki suara yang merdu ini keberadaannya sudah diketahui masyarakat setempat sejak tahun 90-an.

Kemudian, sekitar tahun 1998 silam, masyarakat mulai memelihara burung berwarna merah kecokelatan ini.

Dulunya, masyarakat masih belum mengetahui nama dan jenis burung tersebut sehingga diberi nama Kedis Tain Sampi atau Burung Kotoran Sapi karena Punglor ini dulunya kerap mencari makanan berupa cacing di sekitaran kotoran sapi milik warga yang diletakkan di kebun masing-masing.

“Nah awalnya kan hanya dipelihara oleh masyarakat. Dulu namanya Kedis Tain Sampi¸ tapi lama kelamaan masyarakat mulai mengetahui bahwa burung tersebut merupakan burung yang bagus dan memiliki daya jual yang tinggi. Keberadaan burung ini menjadi tambang emas bagi masyarakat karena bisa ditemukan di kebun atau ladang warga sendiri,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved