Bali Jadi Provinsi Pertama Penerapan Kolaborasi Konsep Ekonomi Sirkular Danone-AQUA

Program ini mengajak masyarakat untuk terlibatkan mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas untuk di daur ulang.

Bali Jadi Provinsi Pertama Penerapan Kolaborasi Konsep Ekonomi Sirkular Danone-AQUA
TRIBUN BALI/MEIKA PESTARIA TUMAGGOR
Danone-AQUA berkolaborasi dengan Circle K, Yayasan Bali Wastu Lestari, dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali meluncurkan program Penerapan Kolaborasi Konsep Ekonomi Sirkular, Kamis (27/6/2019)

Bali Jadi Provinsi Pertama Penerapan Kolaborasi Konsep Ekonomi Sirkular Danone-AQUA

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Danone-AQUA berkolaborasi dengan Circle K, Yayasan Bali Wastu Lestari, dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali meluncurkan program pengumpulan botol dan gelas plastik bekas sebagai upaya mendorang terbangunnya ekonomi sirkular untuk Bali yang lebih bersih.

"Program ini mengajak masyarakat untuk terlibatkan mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas untuk di daur ulang. Program ini juga sekaligus mengedukasi masyarakat untuk memilah dan mengumpulkan kemasan plastik bekas dan dibawa ke bank sampah," kata Senior Sustainable Packaging Manager Danone-AQUA Ratih Anggraeni, dalam pada talk show bertajuk Kolaborasi untuk Bali yang lebih bersih, di outlet Circle K, Jalan Sunset Road Nomor 39, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (27/6/2019).

Dipilihnya Bali sebagai provinsi pertama untuk penerapan kolaborasi konsep ekonomi sirkular Danone-AQUA melihat tantangan sampah plastik di Bali.

"Alasan kita memilih Bali berdasarkan kesiapan pemangku kepentingan, para pelaku kolaborasi. Kita juga melihat ada tantangan sampah plastik yang cukup besar yang dihadapi Bali, yang memang berasal bukan hanya dari masyarakat Bali tetapi juga daerah lain karena faktor alam. Selanjutnya secara infrastruktur di sini relatif lebih tepat dibanding lokasi lain. Sebagai contoh, di Bali kita sudah memiliki mitra, dua unit bisnis daur ulang yang sudah mengumpulkan botol plastik bekas untuk diproses lebih lanjut menjadi botol baru. Dengan adanya infrastruktur seperti ini maka memudahkan terbangunnya ekonomi sirkular. Karena pengumpulannya sudah ada, pemerosesannya sudah ada. Bahkan pengumpulannya juga sudah ada karena kita bermitra dengan Circle yang gerainya tersebar di seluruh Bali," jelas Ratih Anggraeni.

Upaya ini diharapkan dapat mengurangi jumlah kemasan plastik bekas yang berpotensi menjadi sampah yang mencemari lingkungan.

Masyarakat yang membawa kemasan plastik bekas yang jumlahnya setara dengan satu kardus minuman kemasan akan mendapatkan kupon yang dapat dapat ditukar dengan produk AQUA LIFE.

"Kupon yang didapat masyarakat dari bank sampah dapat ditukarkan dengan produk AQUA LIFE yang terbuat dari 100 % plastik daur ulang di seluruh gerai Circle K di Bali," imbuh Ratih Anggraeni.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali yang diwakili Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas, I Made Dwi Arbani turut mengapresiasi program kolaborasi ini.

"Kita ingin Bali bersih dari sampah plastik. Ini adalah program inisiatif yang dapat dijadikan contoh. Melalui program pemerintah, retail, industri maupun masyarakat berjuang bersama-sama untuk menjadikan Bali yang lebih bersih," kata I Made Dwi Arbani. (*)

Penulis: Meika Pestaria Tumanggor
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved