Karya Sastra Penting Indonesia di Leiden Ini Sudah Digital, La Galigo, Babad Diponegoro dan Panji

Leiden University saat ini tercatat sebagai penyimpan koleksi terbesar naskah dan dokumen bersejarah asal Indonesia

Karya Sastra Penting Indonesia di  Leiden Ini Sudah Digital, La Galigo, Babad Diponegoro dan Panji
balaisastra.com
Ilustrasi 

Karya Sastra Penting Indonesia di  Leiden Ini Sudah Digital, La Galigo, Babad Diponegoro dan Panji 

TRIBUN-BALI.COMLeiden University saat ini tercatat sebagai penyimpan koleksi terbesar naskah dan dokumen bersejarah asal Indonesia.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, banyak dari koleksi tersebut menunjukkan tanda-tanda kerusakan fisik, terutama karena bahannya yang mudah lapuk, seperti kertas dan daun lontar.

Untuk itu, pihak Leiden University bersama dengan berbagai institusi asal Indonesia seperti LIPI dan Museum Nasional berupaya untuk menyimpan koleksi tersebut dalam bentuk digital.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Kamis 27 Juni 2019: Scorpio Dilimpahi Cinta, Semangat Aries & Libra Membara!

Baca: Jika Anak-anaknya Kelak Menjadi Gay atau Lesbian, Begini Tanggapan Pangeran William

Digitalisasi perpustakaan dan koleksi bersejarah ini bukan hanya sanggup mengabadikan naskah bernilai budaya dan historis tinggi, namun juga mempermudah akses secara meluas dan terbuka bagi berbagai pihak yang tertarik untuk mendalami dan mengadakan penelitian terhadap koleksi tersebut.

“Visi Leiden adalah membuka akses bagi siapa saja untuk dapat mengakses dan mengunduh koleksi yang kami miliki,” papar Marrik Bellen, Director KITLV-Jakarta dan Permanent Representative of Leiden University in Indonesia, yang ditemui saat seminar peringatan 50 tahun KITLV di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Saat ini, terdapat tiga karya sastra penting asal Indonesia yang telah disimpan dalam bentuk digital sebagai koleksi Leiden University Libraries, yaitu La Galigo, Babad Diponegoro, dan Panji Manuscript.

Ketiganya saat ini telah tercatat sebagai Memories of The World UNESCO. La Galigo merupakan epos yang menceritakan mengenai asal usul manusia dan alam semesta dalam kebudayaan Bugis.

Baca: Viral, Postingan Penawaran Adopsi Bayi Laki-laki karena Orangtua Tak Mampu Menebus Biaya Persalinan

Baca: Pertemuan Kembali Ibu dan Anak-anaknya yang 30 Tahun Terpisah, Lestari Ingat Wajah Ibunya

Naskah ini terdiri dari 6.000 halaman berdasarkan tradisi lisan masyarakat Bugis, dan diduga ditulis pada abad 19 dan abad 20.

Sementara itu, Babad Diponegoro adalah autobiografi dari Pangeran Diponegoro. Naskah ini ditulis selama masa pengasingan Pangeran Diponegoro di Sulawesi Utara, dan mengisahkan perjuangan perlawanan pada awal masa pra-kemerdekaan.

Halaman
12
Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved