Kerjasama BLK Karangasem dengan Koperasi di Jepang Terputus, Masih Tersisa 14 Pekerja

putusnya kerjasama karena terkendala permasalahan ijin antar Pemerintah dengan Pemerintah, dan beberapa persyaratannya sangat sulit untuk dipenuhi.

Kerjasama BLK Karangasem dengan Koperasi di Jepang Terputus, Masih Tersisa 14 Pekerja
TRIBUN BALI/WEMA SATYADINATA
Kepala Dinas Tenaga Kerja Karangasem, I Nyoman Suradnya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Dinas Tenaga Kerja Karangasem, I Nyoman Suradnya mengatakan terkait program pemagangan dulu pernah terjalin kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Karangasem dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Karangasem dengan Koperasi Tsukuba yang berada di Jepang.

Kerjasama tersebut dimulai tahun 2008 sampai tahun 2016. Suradnya menyebut pihaknya sudah mengirim 177 orang pekerja Bali, dan kini yang masih berada di Jepang binaan BLK Karangasem, hanya masih tersisa 14 orang.

Hal itu diakibatkan karena adanya pemutusan kerjasama antara BLK Karangasem dengan Koperasi Tsukuba.

Menurutnya putusnya kerjasama karena terkendala permasalahan ijin antar Pemerintah dengan Pemerintah, dan beberapa persyaratannya sangat sulit untuk dipenuhi.

“Kami sudah berkonsultasi ke Pusat dan disampaikan memang sulit. Untuk bisa mendapat ijin itu kriterianya cukup berat,” kata Suradnya saat ditemui usai rapat pembahasan tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan di Kantor DPRD Bali Rabu (26/6/2019) kemarin.

Dua minggu yang lalu pihaknya juga sudah datang ke Jepang menjajaki tentang perpanjangan ijin tersebut, namun hasilnya ijin tersebut belum bisa dikeluarkan.

“Jadi kami sudah jajaki maksudnya memperpanjang tapi tetap tidak bisa,” ujarnya.

Padahal, kata dia, pekerja Bali merasa sangat senang dan nyaman bekerja disana.

Buktinya pihak Disnaker Karangasem belum mendapat laporan terkait permasalahan yang dihadapi pekerja. 

“Kami belum Begitu banyak mendapat laporan adanya permasalahan. Mereka sangat disenangi oleh majikannya masing-masing baik dalam bidang pertanian maupun peternakan,” tuturnya.

Setelah melakukan monitoring ke Jepang, ia menemukan bahwa tenaga kerja dari Bali sangat disenangi karena mereka memiliki kompetensi, jujur, tangguh dalam bekerja.

Namun permasalahannya jangka waktu pemagangan tersebut dibatasi hanya selama tiga tahun. 

Waktu tersebut yang kemudian menjadi kendala dan belum bisa diakomodir di Bali. 

Kemudian ada aturan bahwa dapat diperpanjang masa kerjanya selama dua tahun, namun para pekerja itu harus pulang dulu ke negara asalnya.

Suradnya menyebut secara keseluruhan masyarakat Bali yang masih bekerja berada di  Jepang melalui LPK Duta Sahaya yakni berjumlah 123 orang. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved