Pesta Kesenian Bali

Gong Kebyar Bangsing Bunut Pukau Penonton, Seni Tabuh Ekspresikan Semangat Masyarakat Jurang Pahit

Sekaa Gong Bangsing Bunut, Banjar Jurang Pahit, Desa Kutampi, sebagai Duta Kabupaten Klungkung pada Parade Gong Kebyar Dewasa PKB 2019

Gong Kebyar Bangsing Bunut Pukau Penonton, Seni Tabuh Ekspresikan Semangat Masyarakat Jurang Pahit
Dok Panitia PKB 2019
Sekaa Gong Bangsing Bunut, Banjar Jurang Pahit, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida sebagai duta Kabupaten Klungkung pada Parade Gong Kebyar Dewasa Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI tahun 2019, Kamis (27/6/2019). Gong Kebyar Bangsing Bunut Pukau Penonton, Seni Tabuh Ekspresikan Semangat Masyarakat Jurang Pahit 

Gong Kebyar Bangsing Bunut Pukau Penonton, Seni Tabuh Ekspresikan Semangat Masyarakat Jurang Pahit

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sekaa Gong Bangsing Bunut, Banjar Jurang Pahit, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, sebagai Duta Kabupaten Klungkung pada Parade Gong Kebyar Dewasa Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI tahun 2019 tampil sangat memukau.

Setiap tabuh dan tarian yang dibawakan selalu mendapat sambutan yang meriah dari ribuan penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Wedhi Budaya, Art Center, Denpasar, Rabu (26/6/2019) malam.

Penampilan Gong Kebyar pertama yang ditampilkan oleh Sekaa Gong Bangsing Bunut, yakni tabuh kreasi Ngunda Kirana Bayu (Mengalirkan Tenaga Bagaikan Angin).

Sebuah konsep musik kreasi yang terinspirasi dan semangat masyarakat Jurang Pahit Nusa Penida untuk bertahan hidup di lingkungan alam yang tak bersahabat.

Keadaan tanah kering yang tidak menguntungkan serta sebagian daerah dikelilingi oleh jurang-jurang yang terjal, mengakibatkan mereka berpikir mencari jalan keluar, untuk bisa bertahan hidup demi generasi berikutnya.

Hanya beberapa tumbuhan yang dapat hidup seperti ketela pohon, jagung serta pohon liar lainnya.

Baca: Paulo Sergio Kecewa BU vs Kalteng Putra Berakhir Imbang, Absen Kontra Badak Lampung FC

Baca: 3 Punggawa Penting Bali United Absen Lawan BLFC, Satu Pemain Ikut Resepsi Pernikahan

Dengan demikian leluhur mereka menerapkan strategi Ngunda Bayu, mengalirkan tenaga secara bertahan, seperti tiupan angin perbukitan di malam hari yang sangat menyejukkan.

"Fenomena tersebut kami tuangkan dalam barungan gong kebyar pola garapan yang inovatif, kreatif dan dinamika, dengan mengkombinasikan unusur-unsur musik yang ada dan mencari bentuk aksen, serta ritme yang berbau kekinian, tanpa meninggalkan substansi pokok yang ada," ujar penata tabuh tersebut, I Ketut Suandita.

Suguhan kedua, ditampilkan tari kreasi kekebyaran pranajaya. Pranajaya yang artinya napas kemenangan atau sebuah kebebasan pemuda didalam berkreativitas.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved